GROBOGAN – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Grobogan mulai diuji coba dengan sistem prasmanan.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Grobogan Toroh Krangganharjo 2, Adi Kuncoro, mengatakan uji coba tahap awal dilakukan di TK Dharma Wanita 3 Tambirejo.
Pelaksanaan tersebut masih menjadi percontohan dan direncanakan berlangsung selama dua pekan.
“Ini pelaksanaan kurang lebih dua pekan terlebih dahulu, untuk percobaan. Setelah dua pekan nanti akan ada evaluasi, apakah tetap berlanjut atau dihentikan,” kata Adi.
Dalam pelaksanaannya, sistem prasmanan diterapkan pada dua hingga tiga kelas.
Siswa mengambil makanan yang telah disiapkan secara langsung, kemudian menyantapnya di sekolah.
Menurut Adi, salah satu keunggulan sistem tersebut adalah pihak SPPG dapat melakukan pemantauan secara langsung terhadap makanan yang diambil siswa.
Termasuk melihat makanan yang tersisa maupun seberapa banyak makanan yang dikonsumsi.
“Kalau kelebihannya kita bisa lebih mengontrol langsung siswa-siswa. Sisanya masih berapa, terus dimakannya sedikit atau banyak,” jelasnya.
Meski demikian, sistem prasmanan juga memiliki kekurangan, yakni membutuhkan waktu lebih banyak dibandingkan pola distribusi biasa.
Kondisi tersebut menjadi perhatian ketika sistem diterapkan pada jenjang pendidikan yang memiliki jadwal pembelajaran lebih padat.
“Kalau TK masih bisa kita kendalikan atau waktunya masih terkondisikan. Tapi kalau SD, SMP, dan SMA memang sudah ada jam kurikulumnya,” ujarnya.
Di TK Dharma Wanita 3 Tambirejo, terdapat 62 siswa yang terdaftar sebagai penerima manfaat. Selain siswa, terdapat empat guru yang turut menerima MBG sehingga total penerima manfaat mencapai 66 orang.
Dari sisi waktu, proses pengambilan makanan secara prasmanan disebut berlangsung kurang dari 10 menit. Sementara sejak makanan diterima hingga siswa selesai makan membutuhkan waktu sekitar 30 menit.
“Kurang lebihnya dari penerimaan sampai selesai makan itu sekitaran 30 menit,” ungkap Adi.
Pelaksanaan MBG di TK Dharma Wanita 3 Tambirejo dimulai sekitar pukul 08.30 WIB. Para siswa kemudian menyelesaikan makan sekitar pukul 09.00 WIB.
Menu yang disajikan cukup beragam. Pada Rabu (7/10) ini mereka mendapatkan nasi, telur asin, orek tahu tempe, tumis wortel, putren dan kacang panjang, serta buah jeruk.
Jarak antara SPPG dan lokasi sekolah juga menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan sistem tersebut.
Adi menyebut distribusi dari SPPG menuju TK Dharma Wanita 3 Tambirejo hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit.
“Jadi kita mendistribusikan yang jaraknya terjangkau,” imbuhnya.
Karena itu, setelah diuji di jenjang TK, SPPG Krangganharjo 2 berencana melanjutkan pilot project ke jenjang SD.
SDN 1 Tambirejo menjadi lokasi uji coba berikutnya dengan mengambil dua kelas.
Uji coba di SD tersebut nantinya menjadi bahan pembanding untuk melihat apakah sistem prasmanan tetap efektif diterapkan pada siswa dengan jadwal belajar yang lebih terstruktur.
Evaluasi juga akan mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan sejak makanan diterima hingga siswa selesai makan.
Adi menjelaskan, pelaksanaan pilot project tersebut bukan inisiatif lokal semata.
SPPG mendapat penunjukan dari pihak atasan melalui surat perintah untuk menjalankan uji coba sistem prasmanan.
Untuk wilayah Grobogan, Selain di SPPG Krangganharjo 2, SPPG di wilayah Gubug juga melakukan hal yang sama (RED, prasmanan).
"Hasil uji coba selama dua pekan nantinya akan menjadi dasar evaluasi untuk menentukan apakah sistem prasmanan akan dilanjutkan atau tidak.
Selain efektivitas distribusi, aspek waktu pelaksanaan di sekolah menjadi salah satu pertimbangan utama," pungkas Adi. (int)
Editor : Intan Maylani Sabrina