112 Desa Di Grobogan Dilanda Kekeringan

Abdul Rochim • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 06:20 WIB
DROPPING AIR: Warga Kecamatan Gabus mengambil air yang disalurkan relawan SMKN 2 Purwodadi bersama BPBD Grobogan. (SIROJUL MUNIR/RADAR PATI)
DROPPING AIR: Warga Kecamatan Gabus mengambil air yang disalurkan relawan SMKN 2 Purwodadi bersama BPBD Grobogan. (SIROJUL MUNIR/RADAR PATI)

RADARPATI.JAWAPOS.COM – Krisis air bersih di Kabupaten Grobogan terus meluas.

Hingga awal Oktober, sedikitnya 112 desa terdampak kekeringan dan membutuhkan pasokan air bersih.

Jumlah tersebut setara dengan hampir separuh wilayah desa dan kelurahan di Grobogan. Secara keseluruhan, kabupaten tersebut memiliki 273 desa dan tujuh kelurahan.

Baca Juga: SELAMAT! 51 Prajurit Kodim Grobogan Naik Pangkat

Kepala Pelaksana BPBD Grobogan Wahyu Tri Darmawanto mengatakan, jumlah wilayah terdampak masih berpotensi bertambah apabila hujan belum turun secara merata dalam beberapa waktu ke depan.

Menurut Wahyu, persoalan air bersih di Grobogan tidak lepas dari kondisi geografis wilayah. Salah satunya berkaitan dengan kedalaman cekungan air tanah atau CAT.

“CAT kita cukup dalam. Kalau mencari sumber air cukup susah. Kalau masuk musim kemarau, sumur-sumur gali sudah tidak ada air,” kata Wahyu.

Kesulitan mendapatkan air tidak hanya terjadi pada sumur rumah tangga.

Pengeboran untuk mencari sumber air tanah juga membutuhkan kedalaman tertentu dan belum tentu langsung menghasilkan debit air yang mencukupi.

Karena itu, distribusi air bersih menjadi salah satu langkah utama untuk memenuhi kebutuhan warga selama musim kemarau.

BPBD Grobogan mencatat telah mengirimkan 685 tangki air bersih ke berbagai wilayah terdampak. Total volume air yang didistribusikan mencapai sekitar 3,48 juta liter.

Distribusi tersebut dilakukan ke seluruh 19 kecamatan di Grobogan. Kekeringan sendiri telah dirasakan sejak sekitar Mei dan kembali memasuki periode puncak pada September.

Wahyu menyebut kondisi kemarau panjang turut dipengaruhi fenomena Super El Nino yang berdampak terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah.

“Sampai saat ini, kita sudah mengalami puncak kedua, mulai September. Kami sudah dropping air bersih ke semua kecamatan atau 19 kecamatan,” ujarnya.

Namun, distribusi air bersih dinilai hanya menjadi solusi sementara.

Untuk menghadapi persoalan serupa pada musim kemarau berikutnya, BPBD mendorong adanya pembangunan infrastruktur penampung air di wilayah yang memiliki potensi.

Salah satu yang dapat dikembangkan adalah embung maupun waduk.

Infrastruktur tersebut tidak hanya berfungsi sebagai cadangan air ketika musim kemarau, tetapi juga berpotensi mendukung kebutuhan irigasi pertanian.

“Nantinya tak hanya untuk memenuhi kebutuhan air bersih saat musim kemarau, tapi juga mendukung irigasi,” jelas Wahyu.

BPBD memperkirakan masa kekeringan tahun ini mulai berakhir sekitar awal November.

Perkiraan tersebut mengacu pada prediksi musim hujan berdasarkan pembagian zona musim dari BMKG.

Menurut Wahyu, sebagian wilayah Grobogan masuk zona yang diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November.

Sementara wilayah lainnya baru berpotensi mengalaminya pada Desember hingga Januari.

“Berdasarkan BMKG, (hujan) Grobogan itu masuk zona pertama pada November. Ada juga daerah yang masuk zona kedua pada Desember dan zona ketiga pada Januari. Namun, Grobogan masuk pertama,” imbuhnya. (*)



Editor : Abdul Rochim
kekeringan Grobogan krisis air bersih Grobogan 112 desa terdampak dropping air bersih bpbd grobogan