GROBOGAN – Proyek drainase dan trotoar di Jalan Siswamiharja, Kota Purwodadi berdampak pada jaringan pipa milik Perumdam Purwa Tirta Dharma. Kondisi tersebut membuat distribusi air kepada sejumlah pelanggan terganggu.
Untuk memastikan kondisi jaringan sekaligus mencari solusi, dilakukan joint inspection pada Rabu (30/9/2026).
Pemeriksaan melibatkan Dinas PUPR Grobogan, Perumdam Purwa Tirta Dharma, serta Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek.
Pemeriksaan dilakukan untuk melihat langsung kondisi pipa yang terdampak sekaligus membahas langkah perbaikan agar tidak menghambat pengerjaan drainase dan trotoar yang sedang berlangsung.
Direktur Utama Perumdam Purwa Tirta Dharma Nasirul Umam melalui Manajer Teknik Dimas Roman mengatakan, dari hasil pengecekan ditemukan sejumlah pipa mengalami kebocoran di area proyek.
Pipa yang terdampak di antaranya berukuran empat inci dan dua inci.
Kebocoran tersebut berdampak pada kelancaran distribusi air. Sejumlah pelanggan bahkan mengeluhkan aliran air yang tidak lancar.
"Ada beberapa pipa kita yang bocor, yang mengakibatkan banyak pelanggan komplain karena aliran air kita terganggu," kata Dimas.
Untuk mengatasi gangguan tersebut, Perumdam harus mengambil langkah darurat dengan mengerahkan tiga mobil tangki setiap hari guna menyuplai air bersih kepada pelanggan terdampak.
Dalam sehari, distribusi air menggunakan mobil tangki bisa dilakukan hingga delapan sampai sembilan kali.
Langkah tersebut dilakukan agar kebutuhan air pelanggan tetap terpenuhi selama jaringan pipa belum kembali normal.
Gangguan itu juga menimbulkan kerugian materiil bagi Perumdam. Dimas memperkirakan kerugian akibat kebocoran pipa mencapai sekitar Rp 25 juta dalam sepekan.
"Kerugian kita estimasi karena ini ada pipa empat inci dan dua inci yang kita cek, dengan debit di kisaran 8,1 liter per detik.
Satu harinya Rp 3,6 juta. Jadi kalau seandainya kita asumsikan tujuh hari, itu sudah sampai Rp 25 juta, kurang lebih," jelasnya.
Dalam pemeriksaan tersebut, PUPR, Perumdam, dan penyedia jasa juga membahas teknis perbaikan jaringan.
Koordinasi dilakukan agar perbaikan pipa dapat dikerjakan tanpa mengganggu pekerjaan drainase dan trotoar yang tengah berlangsung.
Hasil koordinasi tersebut menghasilkan kesepakatan. Penyedia jasa menyatakan siap membantu proses pembongkaran aspal pada titik yang diperlukan untuk memperbaiki jaringan pipa.
"Tadi juga sudah diberikan info dari penyedia, siap membantu terkait pembongkaran di aspalnya dengan kedalaman yang disesuaikan dengan ketentuan PUPR, di mana lebar satu meter dari sisi luar," terang Dimas.
Perumdam kini menunggu pelaksanaan perbaikan di lapangan. Setelah jaringan kembali normal, pasokan air kepada pelanggan diharapkan tidak lagi bergantung pada mobil tangki.
"Alhamdulillah, kita sudah mendapatkan solusi. Cuma kaitannya untuk pelaksanaannya kita masih menunggu dari PUPR dan pelaksana," ujarnya.
Dimas berharap perbaikan dapat segera dilakukan dan berjalan selaras dengan pengerjaan proyek drainase.
Dengan begitu, pelayanan air kepada masyarakat dapat kembali normal tanpa menghambat pembangunan infrastruktur.
"Harapan kami, hasil koordinasi ini dapat membantu kami untuk mempercepat perbaikan. Kami pastikan pelaksanaannya juga tidak mengganggu pekerjaan drainase ini. Secepatnya pipa akan kembali normal, sehingga distribusi air tidak lagi menggunakan tangki, melainkan melalui pipa," pungkasnya.
Sekretaris Dinas PUPR Grobogan Erry Subagyo mengatakan, pekerjaan drainase di lokasi tersebut bersinggungan dengan sejumlah fasilitas yang sudah lebih dulu berada di kawasan itu. Salah satunya jaringan pipa milik Perumdam yang berfungsi menyalurkan air kepada pelanggan.
"Untuk itu, memang kita perlu berkolaborasi. Trotoar, drainase yang kita bangun, kenapa PDAM nggak sekalian? Daripada nanti kita bangun, besok diobrak-abrik lagi, kan ya sayang sekali," kata Erry.
Menurut Erry, jaringan yang terdampak pekerjaan harus segera ditangani. Koordinasi antara PUPR, Perumdam, dan penyedia jasa dilakukan agar perbaikan jaringan dapat berjalan beriringan dengan pengerjaan proyek drainase.
Ia menegaskan, setiap keluhan masyarakat yang muncul selama pekerjaan berlangsung harus segera direspons dan dicarikan solusinya.
"Langkah kita harus respons cepat, keluhan-keluhan kita tampung, kita carikan solusi," ujarnya. (int)
Editor : Intan Maylani Sabrina