GROBOGAN — Sebanyak 29 sekolah calon penerima Calon Sekolah Adiwiyata Kabupaten (CSAK) Grobogan 2026 menjalani visitasi dan verifikasi lapangan. Penilaian berlangsung selama empat hari, Senin hingga Kamis (21–24/9/2026).
Ketua Tim 1 Penilai Adiwiyata, S. Gunawan Widiyanto, mengatakan visitasi dilakukan untuk memastikan kesesuaian antara dokumen yang disampaikan sekolah melalui Sistem Informasi Adiwiyata (SIDIA) dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
“Dalam kegiatannya, visitasi ini tidak sekadar melakukan verifikasi penilaian, melainkan juga berfungsi sebagai ruang pembinaan langsung bagi sekolah-sekolah calon Adiwiyata Kabupaten,” ujar Gunawan.
Dalam pelaksanaannya, tim penilai yang terdiri atas unsur lintas perangkat daerah dan jurnalis dibagi menjadi dua tim independen.
Pembagian tersebut dilakukan agar proses verifikasi terhadap puluhan sekolah dapat berjalan optimal.
"Visitasi dilakukan dengan melihat langsung berbagai aspek yang menjadi indikator Adiwiyata. Selain memeriksa kesesuaian administrasi, tim juga melihat penerapan pengelolaan lingkungan yang dilakukan sekolah dalam keseharian," ungkapnya.
Dari peninjauan awal, masih ditemukan sejumlah tantangan yang harus dihadapi sekolah.
Di antaranya keterbatasan sumber daya air, pengelolaan sampah secara mandiri, serta pengembangan jejaring dan kemitraan sekolah.
Kasi Kurikulum dan Penilaian Sekolah Disdik Grobogan, Waswasa Naningsri, mengatakan program Adiwiyata tidak semestinya dimaknai sebagai perlombaan untuk mendapatkan penghargaan.
Karena itu, hal yang lebih penting adalah terbentuknya budaya peduli lingkungan yang diterapkan secara konsisten oleh seluruh warga sekolah.
“Program Adiwiyata bukanlah sebuah perlombaan. Adanya piala adalah sebuah bonus dari usaha melestarikan lingkungan dan pembiasaan cinta lingkungan bagi sekolah,” jelasnya.
Melalui program Adiwiyata, sekolah didorong membangun kebiasaan positif dalam pengelolaan lingkungan. Mulai dari pengelolaan sampah, pemanfaatan sumber daya air, menjaga kebersihan dan penghijauan, hingga melibatkan seluruh warga sekolah dalam berbagai kegiatan peduli lingkungan.
Proses visitasi dan verifikasi CSAK 2026 diharapkan tidak hanya menghasilkan sekolah yang memenuhi indikator penilaian, tetapi juga memperkuat kebiasaan peduli lingkungan yang terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pendidikan.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat sekolah untuk mengikuti program Adiwiyata.
Salah satunya SDN 4 Truwolu yang mengikuti seleksi CSAK 2026 di tengah keterbatasan sumber daya air dan kondisi sarana sekolah.
Plt Kepala SDN 4 Truwolu, Sri Nurkhayati, mengatakan keterbatasan yang dimiliki sekolah tidak menjadi alasan untuk berhenti berbenah.
Ia tetap mendorong warga sekolah untuk terlibat dalam penerapan budaya peduli lingkungan.
“Keterbatasan sumber daya air dan kondisi sekolah tidak menyurutkan semangat kami untuk mengikuti seleksi Calon Sekolah Adiwiyata Kabupaten,” katanya.
Bahkan, sekolah mulai menyediakan sumur resapan hingga penyimpanan air hujan, dengan harapan saat musim kemarau masih ada ketersediaan air. (int)
Editor : Intan Maylani Sabrina