GROBOGAN – Batang kayu hasil penebangan ratusan pohon di kawasan perkotaan Purwodadi tidak akan berakhir sebagai limbah.
Kayu tersebut bakal masuk lelang setelah seluruh proses penebangan rampung dan volumenya selesai dihitung.
Saat ini, kayu hasil tebangan dikumpulkan dan disimpan di eks Pasar Glendoh Purwodadi. Selanjutnya, seluruh kayu akan didata dan dinilai sebelum Pemerintah Kabupaten Grobogan memproses penjualannya melalui mekanisme lelang.
Kepala BPPKAD Grobogan Wahyu Susetijono mengatakan, kayu hasil penebangan tersebut berstatus sebagai Barang Milik Daerah (BMD).
Karena itu, pemanfaatan maupun penjualannya harus mengikuti ketentuan pengelolaan aset daerah.
“Sampai saat ini kami menunggu selesai penebangan. Dikumpulkan dulu, nanti setelah terkumpul semua kita lelangkan,” jelas Wahyu.
Menurutnya, setelah seluruh kayu terkumpul, BPPKAD akan melakukan penilaian dengan melibatkan Perum Perhutani.
Penilaian tersebut dilakukan untuk mengetahui volume sekaligus menentukan nilai atau harga kayu yang menjadi dasar proses lelang.
“Setelah semua terkumpul, kita lakukan penilaian dengan minta bantuan Perhutani terkait harga dan volume. Kita izin Bupati untuk penjualan, baru proses lelang dimulai,” imbuhnya.
Kayu-kayu tersebut berasal dari ratusan pohon yang ditebang dalam rangka penataan drainase dan trotoar di sejumlah ruas jalan perkotaan Purwodadi.
Jenisnya pun beragam, mulai mahoni, angsana, glodokan, palem hingga jambu air.
Kabid Perencanaan dan Bina Konstruksi Dinas PUPR Grobogan Hari Budi Prasetyo menambahkan, penebangan dilakukan setelah mempertimbangkan kondisi sejumlah pohon yang sudah berusia tua.
Selain itu, pertumbuhan akar mulai mengganggu infrastruktur jalan, termasuk masuk ke saluran drainase dan menghambat aliran air.
“Pohon-pohon ini ada yang sudah tua. Akarnya juga menyebar dan masuk ke saluran sehingga menghambat air di dalam drainase,” ujarnya.
Meski demikian, jumlah pasti pohon yang ditebang masih menunggu penyelesaian penataan di ruas Jalan Bhayangkara dan Jalan S. Parman yang saat ini masih menunggu proses lelang pekerjaan.
“Sebenarnya belum mencapai 800-an pohon. Ternyata 605 pohon yang akan ditebang, tapi nanti akan ditambah pohon yang ada di ruas Bhayangkara dan S. Parman.
Sedangkan untuk penanaman kembali diproyeksikan sekitar 819 pohon,” imbuhnya.
Di sisi lain, penebangan pohon tidak berarti penghijauan di kawasan perkotaan Purwodadi akan berhenti.
Pemerintah daerah menyiapkan vegetasi pengganti dengan jumlah yang diproyeksikan mencapai sekitar 819 pohon.
Pohon pule dan tabebuya direncanakan menjadi tanaman pengganti.
Pohon-pohon tersebut nantinya ditanam menggunakan buis beton dengan kedalaman sekitar satu meter.
Cara ini diterapkan untuk membatasi pertumbuhan akar agar tidak kembali menyebar dan merusak trotoar maupun saluran drainase.
Ukuran pohon yang disiapkan juga relatif besar, yakni memiliki tinggi sekitar lima meter dengan diameter batang 20–25 sentimeter.
Dengan ukuran tersebut, penghijauan baru di sepanjang jalan diharapkan lebih cepat terlihat.
Penataan tersebut diarahkan untuk membenahi dua fungsi sekaligus, yakni memastikan drainase kembali bekerja optimal dan jalur pedestrian lebih tertata.
Sementara penghijauan tetap dipertahankan dengan pola penanaman yang disesuaikan dengan kondisi infrastruktur perkotaan. (int)
Editor : Intan Maylani Sabrina