SOSOK Erisha Apriliana Naudi Asal Grobogan jadi Danton LKBB MAN 1 Grobogan

Intan Maylani Sabrina • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 09:32 WIB
Erisha
Erisha

GROBOGAN- BAGI Erisha Apriliana Naudi, menjadi Danton LKBB di MAN 1 Grobogan justru mengajarkannya bahwa memimpin membutuhkan kesabaran, kepekaan, dan kemauan untuk memahami orang lain.

Siswi kelas XI 10 MAN 1 Grobogan itu awalnya tertarik bergabung dengan Paskibra setelah melihat kekompakan para anggotanya saat tampil.

“Sejak melihat mereka kompak, semangat, dan keren saat ada demos, saya langsung ingin bergabung,” ujar Erisha.

Dari rasa kagum tersebut, Erisha kemudian menjalani proses panjang sebagai anggota Paskibra hingga dipercaya mengemban peran sebagai Komandan Pleton (Danton) PKS selama lomba LPBB/LKBB.

Posisi tersebut membuatnya tidak hanya dituntut mampu menjalankan gerakan dengan baik, tetapi juga bertanggung jawab terhadap kekompakan dan kesiapan tim.

Menjadi Danton membuat perempuan asal Genengadal, Kecamatan Toroh ini memahami bahwa memimpin bukan perkara siapa yang paling lantang memberikan komando.

Seorang pemimpin harus mampu mendengar, memahami, sekaligus mengambil keputusan dengan adil.

“Saya selalu berusaha bertanggung jawab, mendengarkan pendapat teman, kakak-kakak, dan pelatih, serta berusaha adil kepada semua,” katanya.

Baginya, setiap anggota memiliki karakter dan cara menghadapi tekanan yang berbeda. Karena itu, seorang pemimpin harus lebih peka terhadap kondisi orang-orang di sekitarnya.

“Harus lebih peka terhadap perasaan, sabar, bicara tegas tetapi tetap halus, dan mengerti satu sama lain,” ungkapnya.

Prinsip itu ia terapkan ketika membangun kekompakan dalam tim. Erisha percaya, sebuah pasukan tidak akan berjalan kuat jika hanya mengandalkan satu atau dua orang. Semua harus saling mendukung dan memiliki tujuan yang sama.

“Sering latihan bersama, saling membantu, jujur, dan memberi semangat karena kita satu tim, satu hati, dan satu tujuan,” tuturnya.

Perjalanan menjadi Danton juga tidak selalu berjalan mulus. Ada saat ketika rasa lelah, gugup, dan tekanan latihan membuat kepercayaan dirinya goyah. Namun, Erisha memilih tidak larut dalam keraguan.

Ketika rasa tidak yakin muncul, ia memiliki cara sederhana untuk menguatkan diri. 

“Tarik napas, bilang ke diri sendiri, ‘aku pasti bisa kok’, lalu fokus pada tugas dan minta dukungan teman dan kakak-kakak,” ujarnya.

Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika latihan terasa sangat melelahkan. Namun, rasa lelah itu justru menjadi pengalaman yang semakin mempererat hubungan antaranggota.

Untuk mencapai hasil terbaik, Erisha pun harus belajar mengatur prioritas. Waktu bermain dan berlibur berkurang karena harus mengikuti latihan.

Bahkan ketika tubuh terasa lelah, ia tetap berusaha hadir dan menyisakan tenaga untuk berlatih. 

Kurangi waktu main atau liburan, tetap datang latihan walaupun sedang lelah, dan selalu sisakan tenaga untuk latihan. Tapi sebuah proses tidak mengkhianati hasil,” ucapnya.

Dari sana, Erisha semakin memahami bahwa prestasi tidak lahir secara instan. Ada disiplin, pengorbanan, kekompakan, dan proses panjang yang harus dilalui sebelum hasil akhirnya terlihat. (int)

Editor : Support
danton LPBB grobogan pks