Harga Daging Sapi Tembus Rp 145 Ribu, Pedagang Bakso Grobogan Menjerit

Abdul Rochim • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:05 WIB
Ilustrasi daging sapi. (JawaPos.com)
Ilustrasi daging sapi. (JawaPos.com)

GROBOGAN Gelombang kenaikan harga bahan pangan kembali memukul para pelaku usaha kuliner di Kabupaten Grobogan.

Tak tanggung-tanggung, harga daging sapi meroket tajam hingga menembus angka Rp 145 ribu per kilogram dari yang semula bertahan di kisaran Rp 125 ribu.

Kenaikan yang terjadi hingga empat kali dalam kurun waktu sebulan ini mendongkrak biaya produksi secara mendadak.

Baca Juga: Dinas Pendidikan Grobogan Punya 3 Inovasi Digital Baru, Ini Fungsinya

Situasi makin pelik lantaran lonjakan harga daging sapi juga mengekor pada komoditas lain seperti daging ayam, cabai, hingga sawi.

Ketua Asosiasi Mie dan Bakso (Apmiso) Kabupaten Grobogan, Adi Suciptoatau yang akrab disapa Yantomengungkapkan bahwa rata-rata kenaikan harga bahan baku mencapai 5 hingga 10 persen.

Kenaikan pasokan ini dinilai berbarengan dengan bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Sebelum ada MBG harga daging sapi Rp 125 ribu per kilo, namun setelah ada MBG naik jadi Rp 145 ribu," ujar Yanto.

Menurutnya, melonjaknya permintaan bahan pangan untuk pemenuhan program tersebut berimbas langsung pada ketersediaan dan harga pasar harian.

"Jelas biaya operasional kita bertambah, pendapatan ajeg (tetap). Ini yang membuat bingung. Kalau disuruh memilih, saya pilih tidak ada MBG karena semua kebutuhan bahan pokok ikut naik," cetusnya.

Di sisi lain, menaikkan harga jual porsi bakso maupun mie ayam bukanlah opsi realistis saat ini.

Pengusaha khawatir langkah tersebut justru memicu kepindahan pelanggan dan memperparah penurunan daya beli.

Simalakama ini dirasakan nyata oleh para pemilik warung. Sujoko, pemilik Bakso Terbit Mantep, memilih bertahan di tengah gempitan harga tanpa mengorbankan kualitas porsi maupun memangkas jumlah karyawan.

"Bakso Terbit Mantep tidak mengurangi kualitas, dan harga penjualannya juga tidak kita naikkan. Kita bertahan meski margin makin tipis," tegas Sujoko.

Sujoko membeberkan tekanan yang dihadapi para pedagang tidak hanya datang dari naiknya biaya bahan baku, tetapi juga diperparah fenomena kekeringan yang melanda sejumah titik di Grobogan.

Lesunya sektor pertanian lokal membuat daya beli warga merosot tajam. Ditambah lagi, imbas program MBG membuat sebagian konsumen tak lagi jajan di luar.

Dampaknya cukup memukul kantong. Sujoko menyebutkan, omzet di salah satu outlet miliknya yang biasa mengantongi Rp 8 juta hingga Rp 9 juta kini anjlok drastis.

"Saat ini turun setengahnya, sekitar 50 persen," pungkasnya lesu. (mun)

 

Editor : Abdul Rochim
harga daging sapi naik Makan Bergizi Gratis grobogan