Lolos 30 Besar, Bank Dunia Kucurkan Hibah Rp 21,4 Miliar untuk Pengelolaan Sampah di Grobogan

Intan Maylani Sabrina • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 20:30 WIB
LSDP: Kepala Bapperida Grobogan Afi Wildani dan Kepala DLH Heru Dwi Cahyono bertemu Direktur perencanaan evaluasi dan informasi pembangunan daerah Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri.
LSDP: Kepala Bapperida Grobogan Afi Wildani dan Kepala DLH Heru Dwi Cahyono bertemu Direktur perencanaan evaluasi dan informasi pembangunan daerah Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri.

GROBOGAN – Kabupaten Grobogan dipastikan menjadi salah satu dari 30 kabupaten/kota di Indonesia yang lolos sebagai penerima program Local Service Delivery Improvement Project (LSDP) yang didukung pendanaan Bank Dunia.

Kepastian tersebut diperoleh setelah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama Bapperida Grobogan mengikuti rapat koordinasi percepatan implementasi program LSDP di Gedung Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Bina Bangda) Kementerian Dalam Negeri, Jumat (14/8/2026).

Kepala DLH Grobogan, Heru Dwi Cahyono, mengatakan Grobogan akan menerima hibah berbasis kinerja (performance-based grant) selama periode 2027-2030.

Pada tahap awal, Kabupaten Grobogan dipastikan menerima hibah sebesar Rp 21.423.360.000 atau setara dengan USD 1.382.152 pada 2027.

"Pada 2027, Grobogan mendapatkan hibah sebesar Rp 21,4 miliar untuk mendukung pengelolaan sampah," ujarnya.

Heru menjelaskan, program LSDP berfokus pada penguatan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh.

Program tersebut mencakup penguatan kelembagaan pengelola sampah, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan tata kelola, hingga perbaikan sistem layanan persampahan dari hulu hingga hilir.

Khusus untuk 2027, dana hibah akan difokuskan pada pengembangan sektor hulu.

Sejumlah program yang akan dibiayai antara lain penguatan kelembagaan pengelolaan sampah, pengembangan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), serta pengadaan sarana dan prasarana.

Pengadaan sarana tersebut meliputi armada pengangkut dan alat pendukung operasional, seperti dump truck, arm roll, kendaraan pikap, hingga ekskavator.

"Penggunaan dana pada 2027 difokuskan untuk meningkatkan kualitas layanan persampahan melalui pengadaan sarana dan prasarana di bagian hulu," katanya.

Tak hanya menerima hibah pada 2027, Grobogan juga berpeluang memperoleh bantuan lanjutan pada 2028.

Namun, besaran anggaran untuk pembangunan infrastruktur tersebut masih menunggu keputusan dari pemerintah pusat.

Sebelum program dijalankan, tim dari Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dijadwalkan melakukan kunjungan ke Kabupaten Grobogan pada September 2026.

Kunjungan tersebut bertujuan untuk mematangkan konsep pelaksanaan program sekaligus menyusun rencana pengembangan kawasan pengelolaan sampah.

Selanjutnya, penandatanganan Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) antara Bupati Grobogan dan pemerintah pusat direncanakan berlangsung pada November 2026.

Selama masa persiapan, pemerintah daerah bersama kementerian terkait akan melakukan perbaikan dan penyempurnaan berbagai dokumen yang dibutuhkan sebagai syarat pelaksanaan program pada 2027.

Heru menambahkan, program LSDP akan dipusatkan di TPA Ngembak.

Kawasan tersebut nantinya akan menjadi pusat pengembangan pengelolaan sampah terpadu di Kabupaten Grobogan.

Menariknya, TPA Ngembak akan menjadi lokasi dua proyek besar sekaligus.

Selain program LSDP, di lokasi yang sama juga akan dikembangkan proyek pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif atau Refuse Derived Fuel (RDF) yang dikerjakan oleh PT Bio Cipta Lestari.

"Di TPA Ngembak nanti akan ada dua proyek. Satu terkait RDF yang ditangani Bio Cipta Lestari, sedangkan satu lagi melalui LSDP. Saat ini kami sedang menyusun masterplan agar seluruh program bisa berjalan secara terintegrasi," pungkasnya. (int)

Editor : Admin
lsdp bank dunia sampah grobogan tpa