GROBOGAN – Musim kemarau mulai menyebabkan krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Grobogan.
Merespons kondisi tersebut, Polres Grobogan bersama Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) serta komunitas motor lokal menyalurkan sedikitnya 100 ribu liter air bersih kepada warga terdampak kekeringan, Rabu (12/8).
Pelepasan bantuan dipusatkan di Dusun Tanjungan, Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi.
Sebanyak 18 armada truk tangki diberangkatkan untuk mendistribusikan air ke sejumlah titik yang mengalami krisis air.
Baca Juga: Resmikan Dua Jembatan Perintis Garuda di Grobogan, Jadi Kado Spesial
Kapolres Grobogan AKBP Endhi Pratama memimpin langsung pelepasan armada. Ia didampingi Kasat Lantas AKP Kumala Enggar Anjarani bersama jajaran Satlantas Polres Grobogan.
“Hari ini kami mendistribusikan kurang lebih 100.000 liter air bersih di Kecamatan Toroh. Mudah-mudahan di musim kemarau ini, pasokan air bersih dapat meringankan beban masyarakat yang membutuhkan,” ujar Endhi.
Penyaluran diprioritaskan ke enam titik rawan di Desa Depok dan Desa Sindurejo, Kecamatan Toroh.
Di Desa Depok, bantuan dikirim ke Dusun Kemiri, Pending, Jetis, dan Teguhan, masing-masing tiga truk tangki. Sementara di Desa Sindurejo, masing-masing tiga truk tangki disalurkan ke Dusun Goledok dan Dusun Semen.
Selain wilayah Toroh, Polres Grobogan mengalokasikan dua tangki air bersih bagi warga Dusun Tanjungan, Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi.
Kedatangan armada disambut antusias warga. Mereka membawa berbagai wadah, mulai dari ember, jeriken hingga bekas kaleng cat untuk menampung air.
Personel Satlantas juga membagikan makanan ringan kepada anak-anak yang ikut mengantre bersama orang tua mereka.
Kepala Desa Ngembak Awang mengatakan, krisis air bersih di Dusun Tanjungan yang meliputi empat RT merupakan persoalan tahunan. Saat kemarau panjang, sumur warga tidak mampu memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
“ Sumber air sebenarnya ada, tapi rasanya asin atau payau. Kalau dibor artesis lebih dari 30 meter asin, sedangkan jika kurang dari 20 meter, airnya cepat habis saat kemarau,” jelas Awang.
Menurut dia, kondisi mulai kritis sejak awal Agustus. Kekurangan air diperkirakan berlangsung selama dua hingga tiga bulan ke depan.
Warga biasanya mulai mendapatkan kembali pasokan air dari sumur setelah air irigasi Daerah Irigasi (DI) Sidorejo dialirkan pada pertengahan September. (mun)
Editor : Abdul Rochim