Krisis Air Bersih Meluas di Grobogan, 11.551 Warga Terdampak Kekeringan

Sirojul Munir • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 16:18 WIB

SALURKAN AIR BERSIH –  PMI Grobogan bersama IJTI menyalurkan air bersih di wilayah Kecamatan Toroh, Senin (3/8).  (SIROJUL MUNIR/RADAR PATI)
SALURKAN AIR BERSIH – PMI Grobogan bersama IJTI menyalurkan air bersih di wilayah Kecamatan Toroh, Senin (3/8). (SIROJUL MUNIR/RADAR PATI)

PURWODADI – Dampak musim kemarau di Kabupaten Grobogan semakin meluas. 

Hingga awal Agustus 2026, sebanyak 43 desa di 12 kecamatan telah mengajukan permohonan bantuan dropping air bersih kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan.

Meluasnya krisis air bersih membuat distribusi bantuan terus ditingkatkan. Sejumlah warga bahkan terpaksa membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena sumur dan sumber air mulai mengering.

Baca Juga: Ar Rajabi Cup 1 Sukses Digelar di Grobogan, Ganesha Putra FC Keluar Sebagai Juara

Kepala Pelaksana BPBD Grobogan, Wahyu Tridharmawanto, mengatakan permohonan bantuan terus bertambah seiring memasuki puncak musim kemarau.

"Permohonan bantuan terus bertambah seiring semakin meluasnya dampak kekeringan. Saat ini sudah ada 12 kecamatan yang mengajukan dropping air bersih dan penyaluran dilakukan secara bertahap sesuai kondisi di lapangan," ujarnya.

BPBD telah memetakan sejumlah wilayah yang rutin mengalami kekeringan setiap musim kemarau, antara lain Kecamatan Kedungjati, Kradenan, Toroh, Wirosari, Grobogan, Pulokulon, dan Geyer.

Wilayah tersebut menjadi prioritas pemantauan dan distribusi bantuan.

Menurut Wahyu, seluruh permohonan diverifikasi terlebih dahulu agar penyaluran air bersih tepat sasaran.

Seluruh armada tangki juga disiagakan untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan masyarakat.

"Musibah kekeringan ini telah berdampak pada 11.551 jiwa atau sekitar 3.600 kepala keluarga," katanya.

Hingga awal Agustus, BPBD Grobogan telah menyalurkan sebanyak 153 tangki air bersih kepada desa-desa terdampak kekeringan.

Sementara itu, Petugas PMI Kabupaten Grobogan Gesit mengatakan, pihaknya turut membantu penanganan krisis air bersih dengan menyalurkan sekitar 220 ribu liter air bersih kepada warga terdampak.

"Distribusi air bersih sudah mencapai 220.000 liter dan telah membantu 1.430 kepala keluarga. Sesuai arahan Ketua Umum PMI, pada musim kemarau tahun ini kami menargetkan dapat menyalurkan sebanyak 1.200.000 liter air bersih," jelasnya.

PMI mulai melakukan distribusi air bersih sejak 10 Juli 2026 dan akan terus melanjutkan penyaluran hingga kondisi kekeringan berakhir.

Beberapa wilayah yang mengalami dampak paling parah berada di Desa Depok (Kecamatan Toroh), Desa Karangsono dan Desa Ketro (Kecamatan Karangrayung), serta Desa Asemrudung dan Desa Karanganyar (Kecamatan Geyer).

Saat ini PMI Grobogan mengoperasikan dua armada truk tangki dengan kapasitas distribusi sekitar 20 ribu liter air per hari.

Namun kapasitas tersebut dinilai masih belum mencukupi dibanding luasnya wilayah terdampak.

Pihaknya merasa dua armada masih kurang mengingat luasnya wilayah terdampak. Pada tahun 2023 lalu distribusi air bersih menjangkau 18 kecamatan dan 67 desa.

"Harapan kami armada dapat ditambah agar pelayanan kepada masyarakat lebih optimal," pungkasnya.

Fakta Kekeringan Grobogan 2026

  • 43 desa mengajukan bantuan air bersih.
  • Tersebar di 12 kecamatan.
  • 11.551 jiwa atau sekitar 3.600 KK terdampak.
  • BPBD telah menyalurkan 153 tangki air bersih.
  • PMI telah mendistribusikan 220.000 liter air bersih.
  • Bantuan PMI telah menjangkau 1.430 KK.
  • Target distribusi PMI mencapai 1,2 juta liter selama musim kemarau.
  • Dua armada tangki PMI berkapasitas sekitar 20 ribu liter per hari masih dinilai belum mencukupi. (*/him)
Editor : Abdul Rochim
krisis air bersih Grobogan kekeringan Grobogan 2026 dropping air bersih BPBD Grobogan 43 desa terdampak kekeringan PMI Grobogan salurkan air bersih