GROBOGAN – Kasus gizi buruk pada balita masih menjadi perhatian serius di Kabupaten Grobogan.
Hingga Juni 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Grobogan mencatat sebanyak 181 balita mengalami gizi buruk, dengan wilayah kerja Puskesmas Pulokulon I menjadi penyumbang kasus terbanyak.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Grobogan, dr. Endah Yuli Ratnawati, mengatakan Pulokulon I mencatat 21 balita berstatus gizi buruk.
Selain itu, pihaknya juga tengah menangani seorang bayi berusia satu bulan di wilayah kerja Puskesmas Toroh II yang memiliki berat badan hanya 2,3 kilogram dengan panjang badan 49 sentimeter.
Baca Juga: Kekeringan, Warga di Karanganyar Grobogan Gali Sungai Demi Air
"Bayi tersebut saat ini mendapat penanganan intensif untuk memperbaiki kondisi gizinya," ujarnya.
Menurut dr. Endah, sebagian besar kasus gizi buruk dipengaruhi lebih dari satu faktor.
Selain pola asuh dan pemberian makan yang belum optimal, banyak balita juga mengalami penyakit penyerta yang membuat proses pemulihan menjadi lebih sulit.
Beberapa penyakit yang kerap menyertai kasus gizi buruk antara lain kelainan jantung bawaan, tuberkulosis (TB), bronkopneumonia, hingga Down syndrome.
Kondisi tersebut menyebabkan berat badan anak sulit meningkat meski telah memperoleh asupan gizi.
"Balita dengan penyakit penyerta membutuhkan penanganan lebih intensif karena proses pemulihannya lebih kompleks," jelasnya.
Untuk mempercepat pemulihan, Dinkes Grobogan memanfaatkan Ready to Use Therapeutic Food (RUTF) atau makanan terapi siap santap yang kaya energi, protein, vitamin, dan mineral. Bantuan tersebut telah disalurkan ke seluruh puskesmas sebagai terapi khusus bagi balita gizi buruk.
Namun, ketersediaan RUTF masih terbatas. Setiap puskesmas baru menerima sekitar dua hingga tiga paket sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh balita yang memerlukan terapi.
Selain RUTF, pemerintah juga menyalurkan Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dari Kementerian Kesehatan.
Makanan yang diolah kader kesehatan tersebut diberikan sebagai tambahan asupan selama masa pemulihan.
Dinkes menegaskan penanganan gizi buruk tidak cukup hanya dengan pemberian makanan tambahan.
Peran orang tua dalam menerapkan pola asuh yang baik, memastikan asupan gizi seimbang, serta rutin membawa anak ke posyandu menjadi faktor penting untuk mempercepat pemulihan.
Melalui pendampingan tenaga kesehatan, pemantauan pertumbuhan secara berkala, serta terapi gizi yang tepat, Dinkes berharap angka gizi buruk di Kabupaten Grobogan dapat terus ditekan. (int/him)
Editor : Abdul Rochim