Kekeringan, Warga di Karanganyar Grobogan Gali Sungai Demi Air

Intan Maylani Sabrina • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 15:29 WIB
KEKERINGAN: Warga Desa Karanganyar Kecamatan Geyer Kabupaten Grobogan saat membuat belik di dasar sungai.
KEKERINGAN: Warga Desa Karanganyar Kecamatan Geyer Kabupaten Grobogan saat membuat belik di dasar sungai.

GROBOGAN – Krisis air bersih mulai melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Grobogan. Di Desa Karanganyar, Kecamatan Geyer, warga terpaksa menggali belik di dasar sungai yang telah mengering untuk mendapatkan rembesan air sebagai sumber air sehari-hari setelah sumur-sumur mereka tak lagi mengeluarkan air.

Pemandangan tersebut terlihat di Dusun Karanganyar. Sungai yang biasanya mengalir kini berubah menjadi hamparan tanah retak.

Di tengah dasar sungai, warga membuat belik atau lubang sedalam sekitar satu meter untuk menampung rembesan air dari dalam tanah.

Air yang terkumpul tidak langsung melimpah. Warga harus menunggu cukup lama hingga tetes demi tetes air memenuhi lubang sebelum dapat diambil menggunakan ember maupun jeriken.

Meski debitnya kecil, sumber air itu menjadi satu-satunya harapan bagi sebagian warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Salah seorang warga, Karno, mengatakan belik mulai dimanfaatkan sekitar satu bulan terakhir sejak sumur-sumur warga mengering akibat kemarau.

"Sudah sekitar satu bulan memakai belik. Airnya dipakai untuk mandi, mencuci, memasak, sampai minum ternak. Kami menunggu tetes demi tetes air yang terkumpul di lubang ini," ujarnya.

Menurut Karno, warga harus rela mengantre dan bersabar menunggu air merembes dari dalam tanah karena tidak memiliki sumber air alternatif.

Sementara itu, warga lainnya, Salamun, mengatakan kebutuhan air rumah tangga sebagian besar terpaksa dipenuhi dengan membeli air bersih. Satu toren berkapasitas sekitar 2.000 liter dibanderol Rp125 ribu dan umumnya hanya cukup digunakan sekitar dua pekan untuk satu keluarga kecil.

"Kalau untuk kebutuhan rumah tangga beli air. Air dari belik lebih banyak untuk minum ternak sapi," katanya.

Kondisi tersebut membuat beban ekonomi warga semakin berat. Selain kesulitan memperoleh air bersih, mereka juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli pasokan air selama musim kemarau.

Sedangkan Kalak BPBD Kabupaten Grobogan, Wahyu Tri Darmawanto, mengatakan dampak kekeringan kini mulai meluas di berbagai wilayah. 

Hingga 30 Juli 2026, tercatat 12 kecamatan dan 35 desa telah mengajukan permohonan distribusi air bersih kepada BPBD.

"Permohonan bantuan terus bertambah seiring semakin banyak wilayah yang mengalami kekeringan. Kami terus melakukan pemantauan dan penyaluran air bersih sesuai kebutuhan di lapangan," kata Wahyu.

Ia menjelaskan, BPBD bersama sejumlah instansi telah menyalurkan 125 tangki air bersih untuk masyarakat terdampak.

Rinciannya, 92 tangki berasal dari BPBD Grobogan, 21 tangki dari PDAM Purwa Tirta Dharma, dan 12 tangki merupakan bantuan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Distribusi tersebut telah menjangkau 10.439 jiwa atau 3.333 kepala keluarga yang tersebar di wilayah terdampak kekeringan.

Wahyu menambahkan, BPBD terus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan untuk memetakan daerah yang mulai mengalami krisis air bersih.

Desa yang membutuhkan bantuan diminta segera mengajukan permohonan agar distribusi air dapat dilakukan secepat mungkin. (int)

Editor : Admin
geyer Belik karanganyar grobogan