GROBOGAN – Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Grobogan menunjukkan tren penurunan sepanjang 2026.
Hingga Juli 2026 tercatat tujuh kasus, lebih rendah dibandingkan 13 kasus sepanjang 2025.
Penurunan juga terjadi pada angka kematian bayi (AKB) yang kini tercatat 83 kasus.
Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Grobogan, dr. Endang Yuli Ratnawati, mengungkapkan hingga akhir Juli 2026 tercatat sebanyak tujuh kasus kematian ibu.
Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan sepanjang 2025 yang mencapai 13 kasus.
"Dari tujuh kasus tersebut, empat disebabkan perdarahan, satu karena eklamsia, dan dua lainnya akibat komplikasi nonobstetri," ujarnya.
Berdasarkan kelompok usia, enam ibu yang meninggal berada pada rentang usia produktif 20–35 tahun, sedangkan satu lainnya berusia di atas 35 tahun.
Sebagian besar meninggal pada masa nifas, sementara hanya satu kasus terjadi saat masih dalam masa kehamilan. Seluruh kasus kematian terjadi di rumah sakit.
Selain AKI, angka kematian bayi juga mengalami penurunan. Sepanjang 2025 tercatat 153 kasus kematian bayi, sedangkan hingga Juli 2026 jumlahnya menjadi 83 kasus.
Sementara angka kematian balita pada 2025 mencapai 173 kasus dan hingga pertengahan 2026 tercatat 93 kasus.
Menurut dr. Endang, penyebab kematian bayi dan balita masih didominasi oleh asfiksia atau kondisi bayi kekurangan oksigen saat lahir serta gangguan pernapasan atau gagal napas.
Meski demikian, Dinkes terus memperkuat berbagai upaya pencega han, mulai dari pelatihan kegawatdaruratan maternal, pemerataan fasilitas USG di puskesmas, hingga menghadirkan dokter spesialis kandungan langsung ke desa-desa.
Untuk menekan angka kematian ibu dan bayi, Dinkes juga menjalankan berbagai program penguatan layanan kesehatan ibu dan anak.
Salah satunya dengan menerjunkan dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Obgyn) ke seluruh puskesmas di Kabupaten Grobogan.
Para dokter spesialis memberikan pelatihan penanganan kegawatdaruratan maternal dan antenatal kepada tenaga kesehatan di 30 puskesmas.
Pelatihan juga diberikan kepada dokter puskesmas agar mampu mendeteksi dini kehamilan berisiko dan memberikan penanganan awal sebelum pasien dirujuk.
Tidak hanya itu, pekan ini dokter spesialis Obgyn RSUD dr. R. Soedjati Purwodadi, dr. M. Dimas Aditya, juga turun langsung ke Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi.
Dalam kegiatan tersebut, ia memberikan edukasi mengenai kehamilan sehat sekaligus memandu senam ibu hamil sebagai upaya meningkatkan kesehatan ibu dan janin.
Dinkes juga memastikan seluruh 30 puskesmas di Kabupaten Grobogan kini telah dilengkapi alat ultrasonografi (USG).
Keberadaan alat tersebut diharapkan mampu memperkuat deteksi dini terhadap kehamilan berisiko sehingga komplikasi dapat dicegah lebih cepat.
Dr. Endang menambahkan, sejumlah faktor masih menjadi perhatian dalam upaya menekan AKI, di antaranya ibu hamil dengan talasemia, kekurangan energi kronis (KEK), dan anemia.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko komplikasi selama kehamilan maupun persalinan sehingga memerlukan pemantauan yang lebih intensif. (int)
Editor : Admin