
GROBOGAN – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Grobogan menyelidiki dugaan pencemaran minyak goreng bantuan pangan merek Minyakita yang berbau solar.
Dugaan sementara, aroma menyengat tersebut berasal dari tangki pengangkut minyak yang sebelumnya terkontaminasi bahan bakar solar.
Kepala Disperindag Grobogan Pradana Setiawan mengatakan, laporan mengenai Minyakita berbau solar tidak hanya berasal dari Desa Penadaran, Kecamatan Gubug, tetapi juga Desa Kemaduhbatur, Kecamatan Tawangharjo.
Setelah menerima aduan masyarakat, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Perum Bulog untuk menelusuri penyebab kejadian tersebut.
Baca Juga: 86 Truk Foton Resmi Mengaspal untuk Operasional Koperasi Merah Putih di Grobogan
"Ada kejadian di Penadaran dan Kemaduhbatur. Indikasinya minyak berbau solar. Dugaan sementara, tangki pengangkut minyak tercampur dengan solar," ujar Pradana, yang akrab disapa Dannis.
Menurutnya, Bulog telah menyatakan siap mengganti seluruh minyak goreng yang diduga bermasalah.
Produk yang telah diterima masyarakat juga mulai ditarik dan diganti dengan minyak goreng baru dalam jumlah yang sama.
"Solusi dari Bulog, minyak yang bermasalah akan diganti. Warga yang sudah menerima juga sudah mendapatkan penggantian dengan jumlah yang sama," katanya.
Disperindag masih melakukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti kontaminasi tersebut.
Koordinasi juga dilakukan dengan instansi terkait mengingat Minyakita itu merupakan bagian dari program bantuan pangan pemerintah.
Sebelumnya, puluhan warga Desa Penadaran mengeluhkan kualitas minyak goreng kemasan dua liter merek Minyakita yang dibagikan melalui program bantuan pangan.
Saat digunakan untuk memasak, minyak mengeluarkan aroma menyengat menyerupai solar sehingga warga khawatir mengonsumsinya.
Salah seorang penerima bantuan, Minah, mengaku langsung menghentikan penggunaan minyak goreng tersebut setelah mencium bau menyengat ketika minyak dipanaskan.
"Saat digunakan untuk memasak, minyaknya berbau solar menyengat. Kami takut membahayakan kesehatan sehingga tidak berani menggunakannya lagi," ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Ervin. Bersama warga penerima bantuan lainnya, ia memilih mengembalikan minyak goreng tersebut ke pemerintah desa agar dapat ditukar dengan produk yang layak konsumsi.
Menanggapi laporan tersebut, Kepala Desa Penadaran Sholehatu Ridlo mengimbau seluruh warga penerima bantuan untuk tidak menggunakan minyak goreng tersebut hingga hasil pemeriksaan selesai.
"Kami meminta warga tidak mengonsumsi minyak itu terlebih dahulu. Silakan dibawa ke kantor desa untuk didata, kemudian akan kami upayakan agar dapat ditukar dengan minyak goreng yang baru dan aman digunakan," jelasnya.(mun)