GROBOGAN – Jejak peradaban Hindu yang diduga berkembang di wilayah Kecamatan Gubug kembali mencuat setelah ditemukannya sejumlah artefak kuno di tiga desa berbeda.
Temuan yang terdiri atas Yoni di Desa Glapan, Yoni di Desa Kemiri, dan Arca Nandi di Desa Tlogomulyo itu kini tengah diinventarisasi oleh Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Grobogan.
Keberadaan artefak tersebut diungkap pemerhati sejarah dan budaya Grobogan, Ari Tri Winarno, saat melakukan penelusuran lapangan pada pertengahan Januari 2026.
Hasil penelusuran menunjukkan adanya peninggalan yang memiliki keterkaitan kuat dengan tradisi pemujaan Dewa Siwa atau Mahadewa pada masa Hindu klasik di Pulau Jawa.
Ari menjelaskan, lokasi pertama yang ditelusuri berada di Desa Glapan.
Di kawasan yang berada di sekitar area pemakaman desa ditemukan sebuah Yoni yang diperkirakan berasal dari masa klasik.
Artefak tersebut masih terlihat jelas meski sebagian permukaannya mulai mengalami pelapukan akibat faktor usia dan cuaca.
Dalam tradisi Hindu, Yoni merupakan simbol kesuburan dan sumber kehidupan yang biasanya menjadi pasangan Lingga sebagai representasi Dewa Siwa.
Keberadaan Yoni di Glapan dinilai bukan sekadar batu biasa, melainkan petunjuk adanya aktivitas keagamaan pada masa lampau.
Selain berada di area yang cukup tinggi, lokasi temuan juga tidak jauh dari aliran sungai.
Penelusuran kemudian berlanjut ke Desa Kemiri. Di kompleks Punden Mbah Kramat ditemukan sebuah Yoni lain yang memiliki bentuk berbeda dari umumnya.
Lubang pada bagian tengah artefak berbentuk bulat, sedangkan Yoni pada umumnya memiliki lubang persegi sebagai tempat berdirinya Lingga.
Menurut Ari, perubahan bentuk tersebut diduga terjadi karena penggunaan ulang oleh masyarakat pada masa lalu.
Batu itu kemungkinan pernah dimanfaatkan untuk kebutuhan praktis sehingga bagian-bagian tertentu mengalami pengikisan.
Meski demikian, sejumlah ciri khas peninggalan Hindu masih terlihat jelas.
Temuan ketiga berada di Dusun Klatak, Desa Tlogomulyo. Di lokasi tersebut ditemukan sebuah Arca Nandi tanpa kepala yang berada di sekitar permukiman warga.
Dalam kepercayaan Hindu, Nandi merupakan lembu suci yang menjadi kendaraan sekaligus penjaga Dewa Siwa.
Arca Nandi biasanya ditempatkan menghadap bangunan utama tempat pemujaan sehingga keberadaannya sering menjadi petunjuk adanya kompleks keagamaan Hindu di sekitarnya.
Warga sekitar menyebut arca tersebut telah berada di lokasi itu selama puluhan tahun.
Namun hingga kini belum ada penelitian mendalam yang dilakukan untuk mengungkap asal-usul maupun keterkaitannya dengan situs-situs lain di wilayah Gubug.
Menurut Ari, ketiga artefak yang berada di Glapan, Kemiri, dan Tlogomulyo menunjukkan adanya sebaran peninggalan Hindu yang cukup menarik untuk diteliti lebih lanjut.
Meskipun belum ditemukan struktur bangunan candi atau tempat ibadah secara utuh, keberadaan Yoni dan Arca Nandi menjadi indikasi kuat adanya pengaruh kebudayaan Hindu pada masa lalu.
"Artefak-artefak ini menjadi saksi bisu perjalanan sejarah dan menunjukkan bahwa wilayah Gubug pernah terhubung dengan perkembangan peradaban besar pada masa klasik," ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Disporabudpar Grobogan, Yunus Suryawan, mengatakan pihaknya masih melakukan inventarisasi terhadap hasil temuan tersebut.
"Kami masih menginventarisir dulu hasil temuan tersebut," katanya.
Menurut Yunus, proses inventarisasi dilakukan untuk mendata kondisi fisik, lokasi, serta nilai sejarah dari masing-masing artefak.
Pendataan tersebut diperlukan sebagai dasar untuk menentukan langkah penelitian lanjutan maupun upaya pelestarian.
Apabila hasil kajian menunjukkan adanya nilai penting sejarah dan budaya, bukan tidak mungkin artefak tersebut akan diusulkan untuk mendapatkan perlindungan sebagai objek diduga cagar budaya. (int)
Editor : Admin