GROBOGAN – Proyek pengolahan limbah pertanian menjadi biomassa dan Liquid Bio Gas (LBG) milik Kabupaten Grobogan mendapat perhatian dalam ajang Indonesia–Japan Investment Forum (IJIF) 2026 yang digelar di Tokyo, Jepang, pada Jumat (22/5).
Saat pelaksanaan forum investasi internasional tersebut, dua perusahaan asal Jepang yakni Kobelco dan Kanadevia hadir dan menunjukkan ketertarikan terhadap proyek energi hijau yang dipresentasikan Pemerintah Kabupaten Grobogan.
Dalam forum yang difasilitasi Bank Indonesia (BI) itu mempertemukan investor dan pelaku industri Jepang dengan sejumlah proyek investasi potensial dari Indonesia.
Proyek Grobogan menjadi salah satu yang dipilih tampil karena dinilai memiliki potensi besar di sektor energi terbarukan berbasis pertanian.
Sekretaris DPMPTSP Grobogan Abdul Munib Susanto mengatakan respons positif dari perusahaan Jepang menjadi sinyal kuat bahwa proyek energi terbarukan Grobogan memiliki prospek besar di tingkat internasional.
“Alhamdulillah respons dari investor cukup baik. Ada ketertarikan dari perusahaan Jepang terhadap proyek biomassa yang dipresentasikan Grobogan,” ujarnya.
Dalam proposal investasi yang dipaparkan, proyek biomassa Grobogan menawarkan pengolahan residu pertanian menjadi energi bersih berbentuk LBG sekaligus biofertilizer.
Kabupaten Grobogan dinilai memiliki kekuatan bahan baku melimpah dari sektor pertanian dan peternakan.
Data dalam booklet investasi menunjukkan ketersediaan residu pertanian cukup besar, mulai dari bonggol jagung sekitar 171 ribu ton per tahun, residu padi lebih dari 1,25 juta ton, residu kedelai sekitar 15 ribu ton, hingga limbah peternakan mencapai 1,7 juta ton per tahun.
Proyek tersebut dirancang memiliki kapasitas pengolahan bahan baku mencapai 200 ton per hari dengan target produksi LBG sebesar 33 ton per hari atau sekitar 9.900 ton per tahun.
Nilai investasi proyek diperkirakan mencapai Rp273,859 miliar dengan proyeksi Internal Rate of Return (IRR) sebesar 19,46 persen.
Sementara nilai Net Present Value (NPV) proyek mencapai Rp 543,6 miliar dengan periode pengembalian investasi sekitar 5,64 tahun.
Selain menawarkan potensi bisnis, proyek ini juga diklaim membawa dampak lingkungan dan sosial.
"Pengembangan biomassa tersebut diproyeksikan mampu menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 90 ribu ton CO2e per tahun serta membuka peluang kerja langsung bagi sedikitnya 54 tenaga kerja lokal," jelasnya.
Dalam dokumen investasi juga disebutkan proyek diarahkan untuk mendukung ekonomi sirkular pedesaan, mengurangi pembakaran limbah pertanian terbuka, hingga menciptakan pasar baru bagi residu pertanian milik petani.
"Lokasi investasi kami siapkan di kawasan strategis industri Grobogan, di antaranya kawasan Tanggungharjo dan Kedungjati yang dinilai memiliki akses logistik, jaringan energi, sumber air, serta konektivitas transportasi memadai," imbuhnya. (int)
Editor : Admin