GROBOGAN – Ahmad Deni Mutia tak akan pernah melupakan telepon yang mengubah hidupnya dalam hitungan menit.
Saat itu, ia sudah berada sekitar dua kilometer dari perlintasan kereta api di Desa Sidorejo, Kecamatan Pulokulon, Grobogan, ketika kabar buruk datang dari rombongan belakang.
Deni berada di mobil paling depan bersama sang ayah, Sadi, yang merupakan calon jamaah haji.
Di belakangnya, mobil kedua ditumpangi istrinya, Indah Setyowati (26), beserta anak mereka. Sementara mobil ketiga membawa ibunya, Warsini, yang juga calon jamaah haji.
Baca Juga: KRONOLOGI Rombongan Pengantar Jemaah Haji di Grobogan Tertabrak KA Argo Bromo Anggrek
Perjalanan mengantar keluarga menuju keberangkatan haji mendadak berubah menjadi tragedi setelah mobil kedua tertemper KA Argo Bromo Anggrek di perlintasan tanpa palang.
“Saya nggak tahu kronologi awalnya. Saya sudah jalan sekitar dua kilometer dari lokasi. Tahu-tahu sopir bus rombongan belakang telepon, katanya ada mobil putih kecelakaan tertabrak kereta api,” ujar Deni, Sabtu (2/5/2026).
Mendengar kabar itu, Deni langsung memutar balik menuju lokasi. Ia panik karena mengetahui istri dan anaknya berada di dalam mobil tersebut.
Sesampainya di lokasi, pemandangan memilukan langsung menyambutnya. Sejumlah korban terlihat tergeletak di sekitar rel.
Korban selamat sudah dievakuasi menjauh, sementara korban meninggal masih berada di tempat kejadian.
“Saya pas datang, korban sudah banyak yang tergeletak. Yang masih selamat sudah keluar dari area, tapi yang meninggal masih di lokasi,” katanya.
Dalam kondisi panik, Deni ikut membantu proses evakuasi korban.
Beberapa korban bahkan tertimbun lumpur setelah mobil terpental ke area persawahan.
“Saya langsung terjun mencari korban. Ada yang tertimbun lumpur, saya angkat dan saya bersihkan,” ungkapnya.
Ia memastikan mobil yang tertabrak adalah kendaraan kedua yang ditumpangi istrinya dan anak mereka.
Saat ditemukan, anaknya dalam kondisi terjepit, sedangkan sang istri ditemukan agak jauh dari posisi mobil.
Baca Juga: PENYEBAB Avanza Pengantar Jemaah Haji Diabrak KA Argo Bromo Anggrek di Grobogan
Menurut Deni, kondisi perlintasan saat kejadian dini hari itu cukup berbahaya karena kabut tebal membuat jarak pandang sangat terbatas.
Ditambah lagi, jalur rel yang menikung membuat kereta sulit terlihat dari kejauhan.
“Kaca depan mungkin sudah tertutup kabut. Jarak pandang ke samping kanan kiri juga nggak kelihatan. Relnya juga agak menikung, jadi kereta baru terlihat saat sudah dekat,” paparnya.
Di tengah suasana duka, kedua orang tua Deni yang hendak berangkat haji akhirnya hanya diantar sampai Pendapa Kabupaten Grobogan oleh kakak iparnya, Purwanto.
“Semula rombongan mau antar sampai Donohudan. Karena ada kejadian ini hanya diantar sampai pendapa,” ujarnya.
Orang tuanya sudah mengetahui bahwa empat korban meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut, termasuk cucu dan kedua besannya.
Namun hingga kini, Deni belum sanggup memberi tahu bahwa istrinya juga meninggal dunia.
“Kalau yang istri saya ikut meninggal belum saya kasih tahu. Nggak tega mau ngabari. Soalnya hari ini baru terbang ke Makkah, takut nambah pikiran,” imbuhnya.
Indah Setyowati sempat mendapat perawatan di Puskesmas Pulokulon 1 sebelum dirujuk ke RSUD dr Soedjati Purwodadi.
Karena kondisinya tidak membaik, ia kembali dirujuk ke RS Sultan Agung Semarang pada Jumat (1/5/2026) sekitar pukul 15.00 WIB.
Namun, nyawanya tak tertolong. Indah dinyatakan meninggal dunia pada Jumat malam sekitar pukul 22.30 WIB.
Jenazahnya dimakamkan di rumah duka Desa Sidorejo, Kecamatan Pulokulon, Sabtu pagi (2/5/2026), menambah duka mendalam bagi keluarga yang awalnya hendak mengantar orang tua berangkat ke Tanah Suci. (*/him)