Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Kisah Pilu Ahmad Deni, Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek di Grobogan Renggut Istri, Anak dan Mertua

Intan Maylani Sabrina • Sabtu, 2 Mei 2026 | 15:01 WIB
BERDUKA: Ahmad Deni Mutia, suami Indah Setiyowati saat di rumah duka.
BERDUKA: Ahmad Deni Mutia, suami Indah Setiyowati saat di rumah duka.

GROBOGAN – Ahmad Deni Mutia masih mengingat jelas detik-detik saat dirinya menerima telepon yang mengubah hidupnya.

Saat itu, ia sudah berada sekitar 2 kilometer meninggalkan perlintasan kereta api di Desa Sidorejo, Kecamatan Pulokulon, Grobogan.

Deni berada di mobil paling depan bersama bapaknya (Sadi) yang merupakan calon jamaah haji.

Sementara di belakangnya, ada mobil kedua yang ditumpangi istri dan anaknya. Mobil ketiga menyusul di belakang, ditumpangi ibunya (Warsini, calon jamaah haji).

Namun, perjalanan rombongan pengantar jamaah haji itu mendadak berubah menjadi tragedi.

Deni mengaku awalnya tidak mengetahui apa pun tentang kecelakaan tersebut.

Ia baru mendapat kabar setelah sopir bus dari rombongan belakang menelepon dan menyampaikan bahwa mobil putih mengalami kecelakaan dan tertabrak kereta api.

"Saya nggak tahu kronologi awalnya. Saya sudah jalan sekitar 2 kilometer dari lokasi. Tahu-tahu sopir bus rombongan belakang telepon, katanya ada mobil putih kecelakaan tertabrak kereta api,” ujar Deni, Sabtu (2/5/2026).

Mendengar kabar itu, Deni langsung memutar balik dan bergegas menuju lokasi kejadian. Lantaran tahu di dalam mobil tersebut ada istri dan anaknya.

Sesampainya di tempat, ia mendapati kondisi yang sangat memilukan.

Sejumlah korban terlihat sudah tergeletak di sekitar perlintasan rel. Korban yang selamat sudah dievakuasi menjauh dari lokasi, sedangkan korban meninggal masih berada di area kejadian.

“Saya pas datang, korban sudah banyak yang tergeletak. Yang masih selamat sudah keluar dari area, tapi yang meninggal masih di lokasi,” katanya.

Dalam kondisi panik dan penuh kecemasan, Deni berusaha mencari keluarganya. Ia bahkan sempat membantu proses evakuasi korban yang tertimbun lumpur di sekitar lokasi.

“Saya langsung terjun mencari korban. Ada yang tertimbun lumpur, saya angkat dan saya bersihkan,” ungkapnya.

Deni kemudian memastikan bahwa kendaraan yang tertemper kereta api adalah mobil kedua, yang di dalamnya terdapat istrinya, Indah Setyowati (26), beserta anak mereka.

Meski saat itu posisi anaknya terjepit dan istrinya sempat ditemukan agak jauh dari posisi mobil.

Deni juga menuturkan, kondisi perlintasan saat dini hari itu diduga berkabut sehingga jarak pandang sangat terbatas.

Ditambah lagi, posisi rel yang menikung membuat kereta baru terlihat ketika sudah berada sangat dekat.

“Kaca depan mungkin sudah tertutup kabut. Jarak pandang ke samping kanan kiri juga nggak kelihatan. Relnya juga agak menikung, jadi kereta baru terlihat saat sudah dekat,” paparnya.

Di tengah duka yang mendalam, Deni mengungkapkan bahwa kedua orang tuanya yang hendak berangkat menunaikan ibadah haji saat kejadian langsung diantar menuju Pendapa Kabupaten Grobogan oleh kakak iparnya bernama Purwanto.

"Semula rombongan mau antar sampai Donohudan. Karena ada kejadian ini hanya diantar sampai pendapa," ungkapnya.

Orang tuanya bahkan sudah mengetahui bahwa empat orang korban meninggal dunia di lokasi kejadian pada malam tragedi itu terjadi. Termasuk cucu dan kedua besannya.

Namun hingga kini, Deni mengaku belum sanggup menyampaikan kabar bahwa menantu mereka, yakni Indah Setyowati, juga ikut meninggal dunia.

"Kalau yang istri saya ikut meninggal (menantunya) belum saya kasih tahu. Nggak tega mau ngabari. Soalnya hari ini baru terbang ke Makkah takut nambah pikiran,” imbuhnya.

Kesaksian serupa juga disampaikan salah satu tetangga korban yang turut mengantar keluarga berangkat haji.

Ia mengaku berada di mobil ketiga dan tidak mengetahui jika mobil di depannya mengalami kecelakaan tertemper kereta.
Ia menyebut jarak pandang saat itu memang terbatas.

Bahkan, sebelum melewati perlintasan, ia sempat melihat pemuda yang melambaikan tangan dari arah belakang.

Namun ia mengira pemuda tersebut hanya meminta uang seperti yang biasa terjadi di sejumlah perlintasan.

“Saya tidak mengetahui kalau di depan itu tertemper. Karena jarak pandang saat itu terbatas. Sempat ada pemuda di belakang yang lambai tangan. Saya kira mau minta uang penyebrangan kereta. Saya bablas saja karena sudah telanjur lewat,” ujarnya.

Kecelakaan tersebut baru diketahui setelah mobil keempat yang melintas di belakangnya diberhentikan oleh para pemuda itu. 

Saat itulah mereka diberi tahu bahwa ada mobil yang tertemper kereta api. 

“Mobil keempat itu langsung diberhentikan. Terus ditunjukkan kalau ada mobil yang tertemper kereta,” imbuhnya.

Ia langsung mendapatkan telpon dan langsung putar balik untuk mengambil pikap agar bisa membawa para korban.

Termasuk Indah yang dievakuasi menggunakan pikap menuju Puskesmas Pulokulon 1. Sesampainya di sana ia dirujuk ke RSUD dr Soedjati Purwodadi.

Namun, kondisi tak kunjung membaik sehingga pada Jumat (1/5) sekitar pukul 15.00 dirujuk ke RS Sultan Agung Semarang.

Tragedi tersebut semakin memperdalam luka Deni setelah sang istri yang sempat dirawat dan dirujuk ke RS Sultan Agung Semarang akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Jumat malam (1/5/2026) sekitar pukul 22.30 WIB.

Jenazah Indah langsung dimakamkan di rumah duka Desa Sidorejo, Kecamatan Pulokulon, Sabtu pagi (2/5/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. (int)

Editor : Admin
#laka kereta #rombongan pengantar haji #argo bromo anggrek #grobogan