GROBOGAN – Warga Dusun Medang, Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngaringan, kembali menggelar tradisi sedekah bumi sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan kampung, Jumat (24/4/2026).
Sejak pagi, suasana dusun terlihat lebih ramai dari biasanya.
Warga hilir mudik membawa berbagai hidangan seperti sego berkatan, nasi ingkung, hingga aneka lauk-pauk lengkap untuk mengikuti tradisi tahunan yang terus dijaga secara turun-temurun tersebut.
Baca Juga: TERLALU BERANI! Belum Punya Pengolahan Limbah, 77 Unit SPPG di Grobogan Sudah Layani MBG
Sedekah bumi di Dusun Medang memiliki keunikan tersendiri karena dilaksanakan dalam dua sesi dengan lokasi berbeda. Masing-masing tempat memiliki makna khusus bagi masyarakat setempat.
Sesi pertama digelar pagi hari di kawasan Bledug Kramesan, yang berada di tengah area persawahan.
Warga datang berbondong-bondong membawa makanan, duduk bersama di atas tikar, lalu menata hidangan untuk didoakan oleh sesepuh desa.
Setelah doa bersama selesai, seluruh makanan disantap bersama-sama.
Momen ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus pengingat bahwa hasil panen yang melimpah merupakan buah dari kerja keras dan doa seluruh warga.
Sebagian warga juga membawa pulang makanan yang telah didoakan karena dipercaya membawa berkah bagi keluarga di rumah.
Kemudian pada siang hari sekitar pukul 13.00 WIB, kegiatan dilanjutkan di area kawah yang berada di lingkungan perkampungan.
Suasana semakin meriah ketika warga membawa jajanan pasar dan hasil bumi yang disusun membentuk gunungan.
Usai doa dipanjatkan, gunungan tersebut langsung diperebutkan warga.
Mereka meyakini siapa pun yang mendapatkan bagian dari gunungan akan memperoleh keberuntungan dan keberkahan.
Rangkaian sedekah bumi juga dilengkapi dengan penyembelihan sapi sebagai bagian dari selamatan desa.
Kepala Dusun Medang, Arif Rahmanto, mengatakan tradisi sedekah bumi merupakan warisan leluhur yang hingga kini masih terus dilestarikan masyarakat.
Baca Juga: Dinkes Ungkap Penyebab MBG di Grobogan Akibatkan Keracunan
Pelaksanaannya pun sudah ditentukan secara adat, yakni setiap Jumat Legi pada bulan Apit dalam penanggalan Jawa.
“Ini bentuk rasa syukur warga atas hasil panen yang kami peroleh, sekaligus doa bersama agar ke depan diberikan keselamatan dan keberkahan,” ujarnya.
Menurutnya, pembagian lokasi pelaksanaan menjadi ciri khas sedekah bumi di Dusun Medang sejak dahulu.
“Pagi di Bledug Kramesan yang berada di area persawahan, kemudian siang dilanjutkan di kawasan kawah yang ada di perkampungan. Harapannya seluruh wilayah mendapatkan doa dan berkah,” katanya.
Bagi masyarakat Medang, sedekah bumi bukan sekadar agenda tahunan, tetapi juga menjadi cara untuk menjaga budaya, mempererat persaudaraan, dan merawat rasa syukur bersama. (inta/him)
Editor : Abdul Rochim