Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Dinkes Ungkap Penyebab MBG di Grobogan Akibatkan Keracunan

Abdul Rochim • Minggu, 26 April 2026 | 14:26 WIB

Kepala Dinas Kesehatan Grobogan Djatmiko. (SIROJUL MUNIR/RADAR PATI)
Kepala Dinas Kesehatan Grobogan Djatmiko. (SIROJUL MUNIR/RADAR PATI)

GROBOGAN - PENGELOLAAN limbah dapur yang buruk berpotensi menjadi pintu masuk terjadinya keracunan pangan.

Hal itu ditegaskan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Grobogan Djatmiko saat menjelaskan hubungan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dengan keamanan makanan, khususnya di dapur SPPG.

Menurut Djatmiko, sumber limbah dapur tidak hanya berasal dari sisa makanan.

Baca Juga: BPOM Hadir di Grobogan, DPR RI Anggarkan Rp 800 Miliar untuk Awasi SPPG Dapur MBG

“Limbah dapur itu terbagi menjadi limbah cair seperti air cucian bahan makanan dan peralatan, limbah domestik berupa sisa makanan, serta limbah sanitasi dari toilet atau black water,” ujarnya.

Masalah muncul ketika pengelolaan limbah tersebut tidak memenuhi standar.

Ia merinci sejumlah persoalan yang kerap ditemukan di lapangan, mulai dari saluran limbah yang terbuka atau bocor, tidak adanya grease trap atau penyaring lemak, hingga genangan air limbah di sekitar dapur. 

Selain itu, jarak septic tank yang terlalu dekat dengan sumber air serta tempat sampah yang dibiarkan terbuka juga menjadi faktor risiko.

“Kalau kondisi ini dibiarkan, sangat mudah terjadi kontaminasi ke makanan,” tegasnya.

Djatmiko menjelaskan, proses kontaminasi bisa terjadi melalui beberapa jalur.

Pertama, saluran limbah yang terbuka dan mampet akan menimbulkan genangan serta bau tak sedap.

Kondisi lembab ini menjadi tempat ideal berkembangnya faktor penyakit seperti lalat, tikus, dan kecoa. 

Hewan-hewan tersebut kemudian membawa bakteri atau virus dan menularkannya ke bahan pangan maupun makanan yang sudah diolah.

Kedua, limbah domestik berupa sisa makanan akan mengundang lalat yang berpotensi membawa kuman ke makanan matang.

Baca Juga: Satgas MBG Grobogan Siap Tutup Dapur Bermasalah, Evaluasi SPPG Diperketat

Tidak hanya itu, faktor kebersihan penjamah pangan juga berperan penting. 

Air limbah yang menggenang bisa terbawa ke area pengolahan melalui alas kaki atau tangan yang tidak dicuci bersih, sehingga mencemari makanan.

“Seringkali yang tidak disadari adalah perpindahan kuman dari tangan penjamah pangan setelah kontak dengan limbah. Ini sangat berbahaya jika langsung menyentuh makanan siap konsumsi,” imbuhnya.

Ketiga, limbah sanitasi dari toilet juga berisiko tinggi.

Penggunaan air yang telah tercemar bakteri atau virus untuk mencuci bahan makanan atau peralatan dapat menyebabkan kuman menempel pada makanan.

Jika dikonsumsi, kondisi ini bisa memicu keracunan.

Lebih lanjut, Djatmiko menyebut beberapa mikroorganisme yang kerap menjadi penyebab keracunan akibat limbah, di antaranya bakteri Escherichia coli dan Salmonella, serta virus seperti Hepatitis A.

“Jika bakteri seperti E. coli masuk ke tubuh, dia akan berkembang di usus dan menghasilkan racun yang merusak dinding usus,” jelasnya.

Gejala yang muncul biasanya dalam waktu 1 hingga 3 hari setelah konsumsi makanan tercemar, seperti diare kadang disertai darah mual, muntah, kram perut, demam ringan, dan tubuh lemas.

Pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, kondisi ini bahkan bisa berakibat fatal.

Ia menegaskan, benang merah dari persoalan ini adalah buruknya pengelolaan limbah yang kemudian menjadi sumber kuman dan vektor penyakit.

Kuman tersebut berpindah ke makanan dan akhirnya masuk ke tubuh manusia.

Untuk itu, Dinkes Grobogan menekankan pentingnya langkah pencegahan.

Di antaranya memastikan pengelolaan limbah berjalan baik, saluran tertutup dan lancar, serta tersedianya grease trap.

Selain itu, area dapur harus bebas dari genangan, jarak sumber air dengan septic tank harus aman, dan tempat sampah wajib tertutup.

Tak kalah penting, penerapan cuci tangan pakai sabun (CTPS), pemisahan area bersih dan kotor, serta pengendalian vektor harus dilakukan secara konsisten.

“Kalau semua standar ini dipenuhi, risiko keracunan pangan bisa ditekan secara signifikan,” tandas Djatmiko. (mun/him)

Editor : Abdul Rochim
#IPAL dapur MBG #Makanan Bergizi Gratis (MBG) #dinkes grobogan #SPPG dan dapur MBG