GROBOGAN – Siapa sangka kulit jeruk, nanas, hingga apel yang biasanya langsung dibuang, justru bisa berubah menjadi “cairan penyelamat” lingkungan.
Inilah yang dilakukan para murid MAN 1 Grobogan melalui aksi kreatif dan edukatif mengolah limbah organik menjadi ekoenzim, cairan hasil fermentasi yang ramah lingkungan dan multifungsi.
Kegiatan ini dilakukan oleh murid yang tergabung dalam Tim Adiwiyata dan Duta Lingkungan Hidup, dengan pendampingan guru Biologi Dwi Hapsari Endah Retnani.
Aksi tersebut bukan sekadar praktik pelajaran, melainkan gerakan nyata yang menyentuh persoalan lingkungan di sekitar madrasah.
Kegiatan panen ekoenzim ini digelar pada Rabu (8/4), bertepatan dengan program Rabu Bebas Sampah. Suasana makin semarak karena sekaligus menjadi bagian dari program GAMPIL (Gerakan Aman Peduli Lingkungan).
Dengan penuh antusias, para murid mengumpulkan limbah kulit buah dari rumah maupun lingkungan kantin madrasah.
Limbah yang sebelumnya dianggap tak berguna itu kemudian difermentasi melalui proses sederhana hingga menghasilkan ekoenzim yang memiliki banyak manfaat, mulai dari pembersih alami, pengurai bau, hingga cairan pendukung kebersihan lingkungan.
Guru Biologi MAN 1 Grobogan, Dwi Hapsari Endah Retnani, mengatakan, kegiatan ini lahir dari keprihatinannya terhadap kondisi lingkungan sekitar madrasah, terutama selokan yang terkadang menimbulkan bau tidak sedap.
“Melalui pembuatan ekoenzim ini, saya ingin menanamkan kesadaran kepada murid bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal sederhana. Limbah yang selama ini dianggap sampah, ternyata bisa kita olah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.
Menurut Hapsari, ekoenzim yang dihasilkan nantinya tidak hanya disimpan sebagai hasil praktik, namun benar-benar dimanfaatkan untuk mengurangi bau di selokan sekitar lingkungan MAN 1 Grobogan. Dengan begitu, murid tak hanya belajar teori, tetapi terlibat langsung menjadi bagian dari solusi.
Kegiatan ini juga memperkuat nilai-nilai dalam program Adiwiyata, sekaligus menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang mendorong murid berpikir kritis, kreatif, dan solutif terhadap persoalan lingkungan.
Nuansa gotong royong terlihat kental sepanjang kegiatan. Para murid saling bekerja sama, berdiskusi, hingga berbagi peran dalam proses pembuatan ekoenzim.
Tak hanya menciptakan produk bermanfaat, kegiatan ini juga menumbuhkan karakter positif seperti kepedulian, kolaborasi, dan rasa memiliki terhadap lingkungan madrasah.
Dwi Hapsari berharap, kegiatan sederhana ini mampu menjadi inspirasi bagi murid untuk membawa kebiasaan peduli lingkungan ke rumah dan masyarakat sekitar.
“Jika lingkungan kita bersih dan nyaman, tentu proses belajar akan lebih menyenangkan. Dari sinilah akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan,” tambahnya.
Aksi kecil para murid MAN 1 Grobogan ini menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal sederhana. Dari limbah kulit buah, kini lahir ekoenzim yang membawa manfaat nyata.
MAN 1 Grobogan pun terus menunjukkan komitmennya membangun budaya cinta lingkungan melalui gerakan konkret yang melibatkan seluruh warga madrasah. (int)
Editor : Admin