GROBOGAN– Kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang disertai imbauan menggunakan transportasi umum mulai berdampak pada tren mobilitas masyarakat.
Meski belum melonjak drastis, jumlah penumpang Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng Koridor Penggaron (Semarang)–Godong (Grobogan) tercatat mengalami kenaikan saat pelaksanaan WFH perdana.
Data menunjukkan, pada Kamis (9/4) jumlah penumpang Trans Jateng koridor tersebut mencapai 3.383 orang. Sementara pada Jumat (10/4), bertepatan dengan WFH perdana, jumlahnya naik menjadi 3.408 penumpang.
Kasi Operasional Trans Jateng, Bambang Teguh Sugiarto, menyebut kenaikan tersebut memang belum terlalu signifikan, namun mengindikasikan adanya perubahan kebiasaan masyarakat yang mulai beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.
“Kalau melihat datanya, ada kenaikan. Memang belum tinggi, tapi ini menjadi sinyal bahwa masyarakat sudah mulai memilih transportasi umum, terutama Trans Jateng,” ujarnya.
Menurut Bambang, kebijakan pembatasan BBM dan imbauan WFH bagi ASN menjadi salah satu faktor pendorong masyarakat lebih mempertimbangkan kendaraan umum sebagai moda harian.
Ia menilai, kebijakan WFH seharusnya dapat menjadi momentum untuk memperkuat budaya naik transportasi umum. Selain berdampak pada penghematan BBM, langkah tersebut juga berpotensi menekan kemacetan serta polusi.
“Jadi masyarakat sudah memilih angkutan umum utamanya Trans Jateng, yang tadinya menggunakan kendaraan pribadi,,” tegas Bambang.
Selain mendorong masyarakat umum, Bambang juga menyoroti keberadaan tarif khusus Trans Jateng yang sudah disiapkan sejak lama untuk memperluas akses layanan.
Tarif tersebut berlaku untuk pelajar, mahasiswa, buruh, hingga penyandang disabilitas, yakni hanya Rp 1.000.
“Tarif Rp 1.000 ini memang sudah dipersiapkan sejak lama. Tujuannya agar transportasi publik benar-benar bisa dijangkau semua kalangan,” jelasnya.
Jumlah armada yang disediakan pun sebanyak 14 bus yang beroperasi pukul 05.00-20.00.
Tak hanya soal armada, Bambang juga menanggapi keluhan terkait perilaku pengemudi yang kurang ramah atau profesional.
Ia menegaskan BLUD Trans Jateng telah memiliki SOP ketat, termasuk sanksi bagi pengemudi yang membuat penumpang tidak nyaman.
“Kalau ada pengemudi yang membuat penumpang merasa tidak nyaman, akan langsung diberikan surat peringatan,” tegasnya.
Dalam hal ketepatan waktu, Bambang memastikan Trans Jateng tetap menjaga standar operasional meski jalur bus masih bercampur dengan lalu lintas umum.
Ia menyebut jarak antar armada dijaga setiap 15-20 menit dan tingkat ketepatan waktu cukup tinggi.
“On time performance cukup bagus di atas 90 persen. Walaupun Trans Jateng ini dalam kondisi traficnya bercampur dengan lalu lintas yang lain. Kami menjaga jarak antar kendaraan itu per 15 menit dan on time performance menurut hasil survei kami juga di atas 90 persen,” ujarnya.
Dengan tren penumpang yang mulai bergerak naik, Trans Jateng optimistis kebijakan WFH dan pembatasan BBM bisa menjadi pemicu peningkatan penggunaan transportasi publik secara lebih luas, sekaligus mendorong perubahan pola perjalanan masyarakat menuju moda yang lebih efisien dan ramah lingkungan. (int)
Editor : Admin