GROBOGAN– Upaya menghidupkan kembali jalur kereta api Kedungjati–Tuntang–Ambarawa mendapat angin segar.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin melakukan kunjungan langsung ke jalur nonaktif tersebut pada Kamis (12/2).
Kunjungan ke wilayah Daerah Operasi 4 Semarang itu menjadi bagian dari agenda strategis perusahaan untuk mendorong reaktivasi jalur yang memiliki nilai historis sekaligus potensi ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Dalam peninjauan tersebut, Dirut KAI bersama jajaran manajemen menelusuri sejumlah titik lintasan, termasuk kawasan Stasiun Kedungjati hingga Tuntang.
Selain mengecek kondisi fisik rel dan bangunan stasiun, rombongan juga memetakan potensi pengembangan jalur sebagai konektivitas alternatif di kawasan Kedungsepur.
Kabid Infrastruktur, Kewilayahan, Perekonomian dan SDA Bapperida Grobogan Candra Yulian Pasha menyebut, kunjungan tersebut menjadi sinyal positif atas usulan reaktivasi yang telah lama diperjuangkan Pemkab Grobogan.
“Memang sudah lama diusulkan dan dokumen perencanaan reaktivasi sudah lama disusun. Alhamdulillah kalau ada tindak lanjut implementasi. Ini tentu memberi harapan baru,” ujarnya.
Reaktivasi jalur ini sejatinya bukan wacana baru. Pada 2015, sejumlah bantalan rel berbahan beton sempat disiapkan di beberapa titik sebagai langkah awal.
Namun pada 2017 material tersebut dibiarkan dan proyek terlihat terhenti.
Di Stasiun Kedungjati sendiri, bangunan peron telah tertata sebagai bagian dari persiapan reaktivasi jalur menuju Ambarawa.
Stasiun bersejarah peninggalan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) itu masih mempertahankan arsitektur khas dengan dinding bata plester, konstruksi baja pada peron, dan atap seng bergaya kolonial.
Diketahui, jalur Kedungjati–Tuntang–Ambarawa telah nonaktif sejak 1976.
Padahal, jika kembali beroperasi, lintasan ini dinilai strategis dalam mendukung mobilitas masyarakat serta distribusi hasil pertanian Grobogan yang dikenal sebagai sentra agraris.
Candra menegaskan, dorongan reaktivasi tak lepas dari posisi Grobogan sebagai bagian kawasan Kedungsepur—meliputi Kendal, Demak, Ungaran, Kota Salatiga, Kota Semarang, dan Purwodadi.
Peningkatan konektivitas transportasi publik menjadi kebutuhan mendesak.
“Kami membutuhkan pengembangan armada transportasi umum untuk menunjang wilayah Kedungsepur. Salah satunya melalui reaktivasi jalur KA Kedungjati–Tuntang–Ambarawa ini. Dulu sempat aktif, maka kami usulkan untuk aktif kembali,” tegasnya.
Dari Kementerian Perhubungan telah disusun dokumen feasibility study (FS) reaktivasi.
Namun sejumlah kendala masih dihadapi, seperti titik longsoran di beberapa lokasi serta kebutuhan anggaran yang cukup besar.
Meski begitu, kunjungan Dirut KAI dinilai menjadi momentum penting.
Jika terealisasi, jalur ini tak hanya berpotensi mengangkut wisatawan ke kawasan heritage Ambarawa, tetapi juga membuka peluang angkutan barang dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah. (int)
Editor : Abdul Rochim