GROBOGAN – Pemerintah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah resmi menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana menyusul banjir besar yang melanda sejumlah wilayah pada Senin (16/2/2026).
Penetapan tersebut diumumkan oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Grobogan, Wahyu Tri Darmawanto, sebagai langkah percepatan penanganan dampak bencana yang kian meluas.
Wahyu menjelaskan, keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari luasnya wilayah terdampak hingga potensi kerugian yang ditimbulkan.
“Dampaknya sudah meluas dan berpotensi menimbulkan kerugian serta kerusakan, baik infrastruktur maupun sektor lainnya,” jelasnya.
Tak hanya merusak fasilitas umum dan permukiman warga, banjir juga mengganggu aktivitas sosial, roda perekonomian, hingga kegiatan pendidikan di sejumlah kecamatan.
Lintas Sektoral Bergerak
Dengan ditetapkannya status tanggap darurat, penanganan bencana kini dapat dilakukan secara lebih masif dan terkoordinasi lintas sektor.
Menurut Wahyu, seluruh perangkat daerah, relawan, hingga unsur TNI-Polri dapat bergerak lebih cepat di bawah komando penanganan darurat.
“Kita juga bisa mendapat dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana maupun BPBD Provinsi Jawa Tengah untuk memperkuat upaya di lapangan,” tegasnya.
Dukungan tersebut mencakup tambahan personel, peralatan, hingga bantuan logistik bagi warga terdampak.
Dana BTT Dikeluarkan
Penetapan status tanggap darurat juga membuka akses penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk kebutuhan penanganan cepat.
Dana tersebut akan digunakan untuk pengadaan logistik, baik pangan maupun non-pangan, termasuk kebutuhan dasar para pengungsi.
“Misalnya untuk pengadaan logistik mulai dari bahan makanan, kebutuhan pokok, hingga perlengkapan darurat lainnya,” imbuh Wahyu.
Pemkab Grobogan memastikan langkah-langkah penanganan akan terus dimaksimalkan guna meminimalkan dampak lanjutan, sekaligus mempercepat proses pemulihan pascabanjir.
Sementara itu, warga diimbau tetap waspada mengingat potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Banjir terjadi akibat hujan deras sejak Minggu (15/2/2026) pukul 21.00 WIB hingga Senin (16/2/2026) pukul 05.00 WIB.
Ditambah lagi kiriman air dari hulu Sungai Glugu, Sungai Jajar, Sungai Tuntang, Sungai Lusi, dan Sungai Serang. Sejumlah tanggul dilaporkan jebol, di antaranya di Desa Tajemsari (Tegowanu), Mojoagung (Karangrayung), Kebonagung (Tegowanu), serta Tinanding (Godong).
BPBD mencatat banjir melanda 42 desa di 10 kecamatan, dengan sejumlah wilayah masih tergenang hingga Senin malam, seperti Purwodadi, Toroh, Tegowanu, Penawangan, Godong, dan Gubug.
Selain merendam ribuan rumah, banjir juga mengakibatkan 1 rumah rusak berat, 7 titik tanggul jebol, ratusan hektare lahan pertanian terdampak, serta puluhan warga harus dievakuasi ke tempat lebih aman.
Berdasarkan pembaruan data hingga pukul 20.00 WIB, total terdapat 9.000 kepala keluarga terdampak, tersebar di Kecamatan Kedungjati, Tegowanu, Gubug, Purwodadi, Karangrayung, Geyer, Toroh, Pulokulon, Penawangan, dan Godong.
Di antaranya, 1.180 KK terdampak di Kelurahan Kalongan, 1.000 KK di Desa Wates Kedungjati, 526 KK dan 102 hektare sawah di Kebonagung Tegowanu, 429 KK di Desa Tunggak Toroh, serta ratusan KK lainnya di Purwodadi dan sekitarnya. (int)
Editor : Abdul Rochim