GROBOGAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Grobogan bergerak cepat menindaklanjuti laporan sejumlah siswa yang mengalami mual dan muntah usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Pulongrambe Kecamatan Tawangharjo.
Dugaan sementara mengarah pada salah satu menu minuman, yakni susu kemasan berwarna cokelat dari merek tertentu.
Kepala Dinkes Grobogan, dr Djatmiko, mengatakan tim kesehatan langsung turun ke lapangan untuk memastikan kondisi siswa sekaligus melakukan investigasi penyebab kejadian tersebut.
“Kami sudah ke SDN 2 Pulongrambe, Kecamatan Tawangharjo untuk melakukan pemeriksaan. Dari menu hari ini, yang dicurigai adalah susu dari merek tertentu, warnanya cokelat. Beberapa anak mengeluh rasanya agak pahit dan kecut, lalu muncul keluhan mual dan muntah,” ungkap dr Djatmiko.
Ia menjelaskan, total penerima manfaat program MBG di wilayah tersebut mencapai 3.155 siswa, dengan 118 penerima manfaat di SDN 2 Pulongrambe.
Di SDN 2 Pulongrambe, ada lima anak yang mengalami gejala mual dan muntah, lalu dibawa ke puskesmas sekitar pukul 10.00 WIB.
"Dari jumlah itu, tiga anak harus dirujuk ke RSUD dr Soedjati Purwodadi untuk penanganan lebih lanjut,” jelasnya.
Sementara siswa lainnya yang tidak bergejala dilakukan pemantauan oleh petugas kesehatan.
Tak hanya itu, laporan serupa kembali diterima Dinkes Grobogan sekitar pukul 13.00 WIB. Kali ini, keluhan datang dari siswa SDN 3 Mayahan.
Dilaporkan ada siswa yang pusing dan muntah setelah mengonsumsi susu. Petugas langsung kami kerahkan untuk jemput bola.
"Satu anak sempat dibawa ke puskesmas, dua anak diperiksa di rumah. Alhamdulillah, kondisi semuanya sudah membaik dan tidak perlu penanganan intensif,” terang dr Djatmiko.
Untuk memastikan penyebab kejadian, Dinkes Grobogan melakukan pengambilan sampel makanan dan minuman MBG yang dikonsumsi siswa, meliputi menu nasi, kerupuk, bestik daging, acar, serta susu.
“Saat makan makanan utamanya tidak ada keluhan. Tapi begitu minum susu, ada beberapa anak yang langsung mual dan muntah,” katanya.
Selanjutnya, pada Sabtu (31/1), seluruh sampel tersebut akan dikirim ke Labkesda Provinsi Jawa Tengah untuk dilakukan uji laboratorium.
Hasil uji lab ini yang akan memastikan penyebab pastinya.
"Kami ingin semuanya clear, supaya program MBG tetap aman dan tidak menimbulkan kekhawatiran di masyarakat,” pungkas dr Djatmiko. (int/him)
Editor : Abdul Rochim