GROBOGAN - Kasus dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Gubug, Grobogan, ternyata tidak hanya menimpa para siswa.
Sejumlah guru dan wali murid juga ikut merasakan dampaknya setelah menyantap makanan tersebut.
Sudarti, warga Desa Penadaran, menjadi salah satu korbannya.
Ia harus terbaring lemah selama tiga hari karena mual, muntah, dan diare parah usai memakan MBG yang dibawa pulang anaknya.
Hari Jumat (9/1) itu awalnya berjalan normal. Seperti biasa, ia membantu menghabiskan makanan anaknya yang tersisa.
Sudarti merupakan wali murid SDN 1 Penadaran. Siang itu, sang anak pulang membawa paket MBG yang belum sempat disantap di sekolah.
“Anak saya dapat MBG hari Jumat. Pas pulang tidak dimakan, akhirnya saya yang makan,” kisahnya.
Menu yang disantapnya berupa nasi kuning, abon, dan telur dadar. Rasanya biasa saja, tidak ada bau atau rasa aneh.
Namun, menjelang malam, tubuhnya mulai bereaksi.
Ponselnya ramai oleh pesan di grup wali murid. Banyak yang mengeluh mual dan diare.
Sudarti belum mengaitkan keluhan itu dengan makanan yang baru ia makan.
“Saya kira cuma masuk angin. Nggak kepikiran sama sekali kalau dari makanan,” tuturnya.
Malam itu perutnya mulai melilit, lalu diare.
Pagi harinya, Sabtu (10/1), kondisinya semakin buruk.
Ia muntah berulang kali, disertai mulas hebat dan tubuh terasa panas. Aktivitas pun terhenti total.
“Saya muntah terus. Habis muntah, perut mules, lalu muntah lagi. Badan juga panas,” ujarnya.
Ia sempat mencoba kerokan karena mengira hanya kelelahan.
Namun, keluhan tak juga reda. Sabtu hingga Minggu (10–11/1) dihabiskannya dengan berbaring di rumah, menahan nyeri perut dan lemas akibat diare yang tak kunjung berhenti.
Kesadaran bahwa ia bukan satu-satunya korban muncul setelah membaca kembali percakapan di grup.
Banyak wali murid lain mengalami gejala serupa. “Baru sadar kalau ini efek dari MBG,” katanya.
Butuh tiga hari hingga kondisinya mulai membaik. Meski demikian, hingga kemarin Sudarti mengaku belum pulih sepenuhnya.
Perutnya masih sering mulas dan buang air besar belum kembali normal. “Sekarang sudah mendingan, tapi belum benar-benar enak,” ucapnya.
Sudarti hanya satu dari beberapa orang dewasa yang terdampak.
Berdasarkan data Pemerintah Desa Penadaran, terdapat 138 korban dugaan keracunan.
Terdiri dari 125 siswa, 10 guru, dan tiga wali murid di SDN 1, SDN 2, dan SDN 3 Penadaran.
Secara keseluruhan, di Kecamatan Gubug tercatat 803 murid mengalami gejala serupa.
Keluhan yang dirasakan para korban hampir sama: mual, muntah, pusing, sakit perut, hingga diare setelah mengonsumsi MBG yang dibagikan pada Jumat pagi (9/1).
Meski kini kondisi mereka dilaporkan stabil, kejadian ini meninggalkan kekhawatiran dan tanda tanya besar di tengah masyarakat. (int/lin)
Editor : Abdul Rochim