GROBOGAN — Penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sasaran balita, ibu hamil, dan ibu menyusui kembali dilakukan di Posyandu Karangjati, Desa Putatsari.
Namun, realitas di lapangan belum sepenuhnya pulih.
Meski makanan datang lebih awal dari biasanya, sebagian besar menu justru dibiarkan tak tersentuh.
Bayang-bayang insiden dugaan keracunan sebelumnya masih membekas.
Sejumlah orang tua memilih tidak memaksa anak mereka mengonsumsi makanan MBG, terutama menu basah.
Tumis labu siam, tahu, dan telur yang dibagikan pagi itu akhirnya hanya menjadi pajangan di rumah penerima.
Risna, salah satu wali balita, mengungkapkan rasa khawatir tersebut belum sirna.
Di rumahnya saja, ada tiga anak penerima MBG yang sama-sama menolak makan.
“Anak-anak masih takut. Sampai sekarang belum berani makan makanan basah dari MBG,” katanya.
Kondisi serupa juga terjadi pada anak-anak lain di lingkungan sekitar. Trauma yang muncul membuat orang tua lebih berhati-hati, meski program kembali berjalan.
Menanggapi situasi itu, Dinas Kesehatan Grobogan menyatakan terus memantau pelaksanaan MBG di lapangan.
Kepala dinas, dr Djatmiko, menyebut tim kesehatan bersama unsur kecamatan kembali diterjunkan untuk mengawal distribusi sekaligus membaca respons masyarakat.
Menurutnya, penyaluran MBG untuk kelompok B3 memiliki tantangan tersendiri.
Titik distribusi yang tersebar di banyak posyandu membuat pengawasan lebih kompleks dibandingkan penyaluran di sekolah.
“Kalau di sekolah satu lokasi, sementara B3 menyebar,” ujarnya.
Selain soal distribusi, evaluasi juga menyasar pengelolaan sampel makanan.
Sesuai standar operasional, sampel seharusnya disimpan selama 2x24 jam sebagai langkah antisipasi bila terjadi kejadian luar biasa.
Namun, dalam pelaksanaan sebelumnya, sampel diketahui sudah dibuang sebelum batas waktu tersebut.
“Itu jadi catatan penting kami untuk perbaikan,” tegasnya.
Pihaknya berharap rangkaian evaluasi ini dapat memperbaiki mekanisme MBG ke depan.
Lebih dari itu, pemerintah daerah ingin kepercayaan masyarakat perlahan kembali, sehingga tujuan program untuk meningkatkan asupan gizi tetap bisa tercapai dengan aman. (int/him)
Editor : Abdul Rochim