GROBOGAN - Suasana pagi di Dusun Sidorejo, Desa Karangasem, Kecamatan Wirosari, Grobogan, tak pernah benar-benar ramai. Dusun kecil yang hanya memiliki dua RT dan sekitar 100-an Kepala Keluarga (KK) itu terletak jauh dari keramaian, di tengah kawasan hutan. Tapi dari balik sunyi itu, masih ada nyala kecil harapan yang dijaga di sebuah bangunan sederhana: SDN Kecil Karangasem
INTAN MAYLANI SARINA, Grobogan, Radar Kudus.
Tahun ajaran baru 2025/2026 kembali dimulai.
Tak seperti sekolah pada umumnya yang ramai menyambut puluhan siswa baru, SDN Kecil Karangasem hanya menyambut dua murid.
Muhammad Arjun dan Tata Ahsanul Mafaza Karim adalah dua anak yang berani memulai langkah pertamanya di dunia pendidikan formal, di sebuah sekolah yang letaknya jauh dari pusat desa, dengan akses jalan setapak yang masih banyak belum tersentuh aspal.
Tak ada buku baru, buku yang dia pakai pun bekas dari kakaknya yang lebih dulu mengenyam pendidikan SD.
Bahkan, tak ada sepatu baru, mereka lebih memilih tanpa memakai alas kaki.
Plt Kepala SDN Kecil Wirosari, Sugiri mengatakan bersyukur tahun ajaran baru ini masih mendapatkan murid.
“Kami bersyukur masih ada yang masuk tahun ini. Semula saat pendaftaran SPMB baru ada satu siswa yang mendaftar, kemudian saat kemarin mulai MPLS ada siswa satu lagi,” ujar kepala sekolah sambil menatap ruang kelas yang dindingnya mulai kusam.
Dengan bertambahnya dua murid, kini total siswa di sekolah ini berjumlah 26 anak, tersebar dari kelas I sampai kelas VI.
Jumlah yang tentu jauh dari ideal.
Di sekolah tersebut juga terdiri dari satu ruangan guru dan tiga ruangan kelas.
Di mana satu ruangan kelas disekat menjadi dua bagian karena keterbatasan ruang.
"Hanya ada tiga ruang kelas, dan satu ruang guru. Di sanalah para guru—lima ASN menjalankan perannya dengan sepenuh hati," ujarnya.
Menurtnya, sekolah ini diperkirakan berdiri pada tahun 1994.
Dahulu, anak-anak Dusun Sidorejo harus menempuh perjalanan 4 hingga 5 kilometer berjalan kaki menuju SDN Karangasem 4.
Medan yang berat dan waktu tempuh yang panjang membuat masyarakat berinisiatif mendirikan sekolah sendiri.
Lahan desa dipakai, bangunan pun dibangun.
Demi anak-anak mereka bisa sekolah tanpa harus mengalah pada jarak.
Namun perjuangan belum berhenti sampai di situ. Setiap tahun, pihak sekolah mengusulkan bantuan rehabilitasi gedung.
Tetapi hingga kini, belum sekalipun bantuan itu turun.
Sementara dinding dan atap terus dimakan usia.
Masalah lain yang tak kalah pelik datang dari minimnya dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah).
Karena perhitungan dana BOS kini mengikuti jumlah siswa riil, sekolah seperti SDN Kecil Karangasem hanya mendapat sedikit anggaran.
Padahal, biaya operasional dasar tetap harus berjalan.
“Dulu ada kebijakan batas minimal 60 siswa agar bisa dapat BOS maksimal. Kalau itu diberlakukan lagi, sekolah kecil seperti kami bisa lebih bernapas. Sekarang sulit sekali,” ujar kepala sekolah.
Tapi SDN Kecil Karangasem tak bisa serta-merta digabung atau diregrouping ke sekolah lain.
Letak yang jauh dari pusat desa dan kondisi geografis yang sulit membuat opsi itu tidak realistis.
Satu-satunya pilihan adalah bertahan.
Dan mereka memilih bertahan.
Meski murid hanya dua di satu kelas, meski kelas harus disekat dan diajar oleh guru yang merangkap tugas, sekolah ini tetap berdiri.
Menjadi tempat belajar, bermain, dan bermimpi bagi anak-anak yang tumbuh di tengah sunyinya hutan Sidorejo.
Sebab bagi mereka, selama masih ada anak-anak yang ingin belajar, dan guru yang mau mengajar, sekolah ini akan tetap hidup. Walau kecil, ia tetap menjadi terang. (*)
Editor : Syaiful Amri