GROBOGAN- SDN 3 Juworo, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, hanya mendapat satu siswa baru dalam proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2025/2026.
Kondisi ini mendorong sekolah tersebut diusulkan untuk menjalani regrouping dengan sekolah terdekat.
Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Kudus, untuk mencapai SDN 3 Juworo, terlebih dahulu harus melewati hutan “tong tongan” sepanjang kurang lebih satu kilometer.
Baru lah sekitar satu kilometer mulai terlihat bangunan sekolah yang berada di sisi kiri jalan.
Serta permukiman warga juga mulai memadati wilayah tersebut.
Kepala SDN 3 Juworo, Umi Hamidah, menyebut jumlah murid di sekolahnya menurun setiap tahun sejak ia ditugaskan pada 2021.
Saat itu, sekolah masih memiliki 60 siswa, lalu menyusut menjadi 50, dan kemudian 40.
“Tahun ini yang lulus ada tujuh siswa. Tiga anak pindah mengikuti orang tuanya ke Sukoharjo, Purwakarta, dan Kecamatan Brati. Sementara dari SPMB, hanya dapat satu pendaftar,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, saat ini jumlah siswa di SDN 3 Juworo tinggal 31 orang.
Umi mengaku sudah berkoordinasi dengan kepala desa untuk mengajukan usulan regrouping ke Dinas Pendidikan.
“Saya sudah diskusi dengan Pak Kades. Warga sekitar memang sudah tidak banyak yang punya anak usia sekolah. Jadi kami sepakat mengusulkan penggabungan dengan SDN 1 Juworo yang paling dekat,” tambahnya.
Diketahui, saat ini kelas 2 terdiri dari delapan siswa, kelas 3 hanya empat siswa, kelas 4 ada lima siswa, kemudian kelas 5 ada tujuh siswa dan kelas 6 ada enam siswa.
Sementara itu, warga Dusun Goprak yang juga Ketua RT 01, Slamet, menambahkan bahwa SDN 3 Juworo dan SDN 1 Juworo letaknya cukup berdekatan.
Namun, posisi SDN 1 Juworo dianggap lebih strategis karena berada di pusat kampung.
“SDN 3 itu di ujung kampung, setelahnya langsung hutan. SDN 1 lebih di tengah kampung, jadi warga banyak yang lebih memilih ke sana. Dulu di sana juga ada TK-nya, bisa bantu menjaring siswa, tapi sekarang sudah tidak ada,” jelas Slamet.
Kepala Desa Juworo, Aris Dwi Haryanto, mengatakan pihaknya bersama pihak sekolah telah menyampaikan usulan resmi ke korwilcam.
Ia mengusulkan agar bangunan SDN 3 Juworo di-regrouping. Setelah nantinya berhasil digabung, maka lahan milik desa itu akan dialih fungsikan menjadi balai desa baru.
“Untuk kondisi bangunannya masih bagus, mungkin hanya perlu renovasi sedikit. Kalau dialihfungsikan, balai desa yang sekarang bisa digunakan sebagai pasar,” ujarnya.
Sedangkan bangunan balai desa lama yang berada di tepi jalan Purwodadi–Solo tersebut, dinilai cukup strategis untuk dijadikan pasar desa.
Lantaran selama ini sudah digunakan beberapa PKL untuk berjualan. Aris menilai lokasi tersebut merupakan titik paling ideal.
“Di sana sudah ada beberapa pedagang. Saya minta sebelum jam 08.00 pagi mereka sudah beres. Tempat itu paling cocok kalau jadi pasar,” katanya. (int/amr)
Editor : Syaiful Amri