Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

WOW! Proyek RDF Grobogan Dilirik Tujuh Negara Asing

Intan Maylani Sabrina • Selasa, 24 Juni 2025 | 07:19 WIB

 

SAMPAH: Kondisi sampah yang ada di TPA Ngembak Kota Purwodadi. INTAN MAYLANI SABRINA/RADARPATI.ID
SAMPAH: Kondisi sampah yang ada di TPA Ngembak Kota Purwodadi. INTAN MAYLANI SABRINA/RADARPATI.ID

GROBOGAN– Usulan proyek pengembangan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) di Kabupaten Grobogan menarik perhatian dunia.

Tercatat, tujuh negara asing menunjukkan ketertarikan untuk berinvestasi dalam pengolahan sampah berbasis bahan bakar alternatif tersebut.

Ketujuh negara itu adalah Belarus, Singapura, Denmark, Jepang, China, Australia, dan Belanda.

Baca Juga: GOR Pesantenan Diusulkan Jadi Markas Cabor Begini Penjelasan Anggota Dewan

Sebagian besar di antaranya mulai tertarik setelah pengenalan proyek RDF dalam ajang Investment Challenge 2024 yang diinisiasi Bank Indonesia melalui platform Keris Jateng.

“Melalui forum itu, lima negara yakni Belarus, Singapura, Denmark, Jepang, dan China mulai menjajaki ketertarikan mereka. Sedangkan Australia dan Belanda datang secara mandiri di luar forum tersebut,” kata Kabid Pengolahan Sampah dan Limbah B3 DLH Grobogan, Lilik Uniarto.

Dua negara di antaranya, Denmark dan Jepang, bahkan telah melakukan kunjungan langsung ke TPA Ngembak, lokasi yang menjadi pusat pengembangan RDF.

Baca Juga: Layanan MPP Rembang Off 6 Jam, Terkena Pemadaman Listrik

Keduanya disebut telah menyatakan komitmen tinggi untuk mendanai pembangunan fasilitas RDF sebagai bagian dari transisi energi bersih dan pengelolaan sampah berkelanjutan.

Proyek ini berawal dari kebutuhan mendesak Kabupaten Grobogan dalam mengatasi lonjakan sampah.

Saat ini, TPA Ngembak hanya mampu menampung sekitar 81 ton sampah per hari, sementara timbulan harian di wilayah itu lebih dari 1.000 ton.

Baca Juga: Kapolres Grobogan Jalan Sehat Sekaligus Napak Tilas Aji Saka, Intip Keseruannya Disini!

Sebagai solusi, Pemkab mulai membangun Pusat Daur Ulang (PDU) senilai Rp 5 miliar yang dilengkapi mesin pemilah dan pengolah sampah, serta mempersiapkan RDF sebagai bahan bakar pengganti batubara.

PT Semen Grobogan (Indocement Group) menjadi mitra utama, dengan target penggunaan RDF hingga 20 persen dari total kebutuhan energi pada 2025.

“Proyek ini tidak hanya layak dari sisi teknis, tapi juga menjanjikan secara ekonomi. Oleh karena itu, investor asing melihat potensi besar di Grobogan,” imbuh Lilik.

Baca Juga: DPRD Pati Usulkan GOR Pesantenan jadi Pusat Markas Cabor

Demi menjamin kelayakan investasi, Pemkab Grobogan telah melengkapi dokumen penting, seperti studi kelayakan, masterplan pengelolaan sampah (2022), dokumen Andalalin, UKL-UPL, pengelolaan limbah B3, dan pemetaan tata ruang.

Dukungan juga datang dari berbagai instansi lintas sektor seperti DLH, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, DPMPTSP, Dinas Pertanian hingga Bappeda.

Selain RDF, Grobogan juga tengah mengembangkan pemanfaatan sampah organik melalui budidaya maggot, yang menjanjikan nilai ekonomi sebagai pakan ternak dan ikan.

Baca Juga: Bupati Sudewo Minta Mahasiswa KKN UGM dan IPB kawal Program Pendidikan dan Pertanian

“Dengan kombinasi pengolahan sampah organik dan anorganik, Grobogan siap menjadi model pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular,” pungkasnya. (int)

Editor : Abdul Rochim
#RDF #sampah #grobogan #dlh grobogan