Bermusik telah digemari Tri Kuntarto sejak kecil. Karier bermusiknya kian menanjak saat mengajar sebagai guru seni budaya di SMKN 1 Purwodadi.
Membuat Trie Koent —nama bekennya- ini sempat diundang RANS Entertainment untuk berkolaborasi dengan Band Gigi yang disiarkan di salah satu stasiun televisi nasional.
Serta kini disibukkan menjadi konten kreator terkait musik.
INTAN MAYLANI SABRINA, Grobogan, RadarPati.ID
JARI-jarinya memetik satu per satu senar secara bergantian, bunyi gitar pun merdu mengiringi seisi ruangan studio musik.
Sesekali ia juga merapikan satu persatu gitar yang terpajang di dinding.
Pria berkacamata ini bernama Trie Koent. Sejak 2009 mengabdi sebagai guru seni budaya di SMKN 1 Purwodadi.
Dari yang sekolah sepi musik, kini berbagai prestasi musik diraih seperti lomba-lomba di festival band, nasyid, solo gitar, vokal grup, dan paduan suara.
Sekaligus pencipta Mars di beberapa sekolah.
Pandemi lalu, merubah karier bermusiknya. Dari yang sebelumnya di sela mengajar ia disibukkan dengan les pribadi di rumahnya.
Selama pandemi, studionya sepi dan off.
Sampai akhirnya Trie Koent bingung ingin melakukan apa.
Dia mulai merambah media daring dengan mengaktifkan Instagram, Facebook, YouTube dengan kerap mengunggah karya bermusiknya di sana.
Mulailah banyak orang yang mengikuti.
"Mulai aktif ke dunia konten kreator terkait musik. Bahkan, ajakan kerjasama dari brand yang mendukung musik mulai masuk," imbuh Wakil Kepala SMKN 1 Purwodadi ini.
Beberapa waktu lalu, anak ke tujuh dari 12 bersaudara ini mendapatkan gitar dari salah satu brand sebanyakk 30 buah.
Ditambah bantuan dari beberapa brand lainnya yang turut memberi gitar.
Akhirnya disimpan dan dikumpulkan sampai berjumlah 40 gitar, yang kemudian diserahkan ke studio musik sekolah.
Ada satu brand yang ngasih 30 gitar, akhirnya ia kumpulkan.
Ada juga yang ngasih uang namun meminta untuk dibelikan gitar sendiri.
"Jadi saya belikan gitar. Setelah terkumpul itu baru saya pajang di studio sekolah," jelasnya.
Pria kelahiran 22 April 1970 ini tak sekadar membuat konten musik.
Baginya konten yang ia buat merupakan reallife. Dimaksud bisa menginspirasi banyak orang.
"Semenjak jadi konten kreator harus aktif bikin konten musik. Tapi tak sekadar konten, isinya benar-benar aktivitas keseharian atau real life," imbuhnya.
Dalam konten yang ia buat, Trie Koent ingin menyiratkan dengan memberikan gempuran lagu yang sesuai umur bagi kalangan pelajar.
Sekarang banyak yang bikin prihatin, adanya lagu-lagu yang kurang cocok dinyanyikan anak-anak.
"Lagu-lagu jawa terkait percintaan yang kurang tepat. Jadi selama ini saya selalu menyajikan lagu yang edukatif dan sesuai usia," imbuhnya.
Selain itu, selama menjadi guru seni budaya ia selalu memberi contoh langsung atau praktik ke anak didiknya. Sehingga tak banyak teori yang didapat.
Saat pembelajaran di kelas, kata dia, anak-anak sudah bisa memegang gitar semua.
"Kemudian saya petakan, kalau kurang bisa pegang gitar, maka bisa diarahkan ke piano, drum, atau vokal," katanya.
Selama aktif berkonten, dia pun tak pernah menyembunyikan identitasnya sebagai seorang guru.
"Saya tak pernah menyembunyikan identitas saya sebagai seorang guru. Bahkan, saya inginnya memang saya jadi guru seni yang tidak direndahkan. Karena buat saya guru yang berwibawa itu adalah guru yang mempunyai prioritas dibidangnya. Bukan secara teori,” jelasnya.
Berkat kontennya yang kerap viral, Trie Koent sempat menjadi tamu spesial RANS Musik dan berkesempatan manggung bareng Band Gigi dengan membawakan lagu Bisa Saja by Band Gigi.
”Mereka mengundang saya karena kerap menonton video yang saya upload di medsos tersebut,” imbuhnya.
Bahkan, dia juga kerap wara-wiri ke Kemendikbudristek.
"Undangan ke sana, tergabung dalam guru konten kreator kemendikbudristek. Diajak Dirjen SMK, untuk bikin konten bareng. Puncaknya pas Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) lalu diundang di Senayan," kesannya.
Selama berkarier ini, Trie Koent juga sempat meraih Anugerah Jateng Musik Award 2021, Juara 2 Gempur Rokol Ilegal di Provinsi Jateng.
Diapun berharap di Hari Guru, para guru semakin sejahtera.
"Perlindungan terhadap guru semakin nyata. Misal guru ada kasus juga ada perlindungan terhadap guru.
Guru jangan terlalu disibukkan diadministratif yang tidak mendukung kegiatan kami dalam pembelajaran," pesannya. (*/him)
Editor : Abdul Rochim