GEYER, RADARPATI.ID – Puluhan petugas dari KPH Gundih tampak siaga dan melakukan pemadaman hutan di wilayah Wana Wisata Cindilaras Grobogan.
Hal itu, karena adanya kebakaran, para peserta apel pun membubarkan diri dan melakukan pemadaman area terbakar.
Mereka memadamkan api menggunakan gepyok serta daun basah untuk mematikan api yang berkobar.
Sebagian lainya mengilari api atau memisahkan jarak api dari area yang belum terbakar dengan peralatan seadanya.
Namun jangan salah, kebakaran hutan itu sengaja dilakukan oleh petugas dari Perhutani untuk melatih respons cepat para peserta apel.
Jika tejadi kebakaran hutan sewaktu-waktu anggota sudah siap untuk bergerak
Administratur KPH Gundih, Haris Setiana mengatakan, kebakaran dilakukan oleh petugas secara diam-diam, hal itu guna melatih respon satgas dan relawan.
Dari 10 BKPH di KPH Gundih telah disiapkan satgas guna mencegah dan mengatasi kebakaran.
”Kami menggandeng berbagai elemen masyarakat termasuk Komunitas Peduli Api (KPA) LMDH, LSM, mahasiswa dan masyarakat untuk pencegahan kebakaran hutan,” kata Haris Setiana.
Dikatakan, kondisi puncak kemarau yang melanda saat ini sangat berpotensi menyebabkan kebakaran hutan serta lahan.
Dalam apel, pembina memberikan gepyok sebagai bentuk kerjasama dalam menanggulangi bahaya karhutla yang berpotensi dapat terjadi sewaktu-waktu.
”Melalui apel yang digelar, mari bersama menjaga kelestarian hutan dengan menjaga hutan agar tidak terbakar,” terang dia.
Penasehat LMDH Bandungharjo Rusmin mengatakan, anggota LMDH sudah disosialisasikan cara mengatasinya.
Cara paling mudah mengatasi kebakaran hutan dan lahan, yakni dengan cara memisahkan api dengan lahan yang belum terbakar.
”Sejak 2024 di wilayah hutan sekitar Bandungharjo Toroh belum pernah terjadi kebakaran hutan. Pernah terjadi kebakaran namun sudah terjadi cukup lama, dan kebakaran relatif kecil,” kata dia.
Ketua Komunitas Peduli Api (KPA) Wana Karya Abadi Depok mengatakan, pihaknya bersama komunitas lainnya telah mendapatkan pembekalan dalam aktifitas pemadaman hutan.
”Diantaranya memahami arah angin, menggunakan peralatan gepyok, serta dapat memisahkan api. Tentunya juga memperhatikan keselamatan,” tandasnya. (mun/him)
Editor : Abdul Rochim