Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Dampak Kekeringan, Warga Klampok di Grobogan Harus Lakukan Ini untuk Dapatkan Air

Intan Maylani Sabrina • Minggu, 1 September 2024 | 00:50 WIB
KEKERINGAN: Warga Dusun Klampok Desa Geyer Kecamatan Geyer saat menyedot air di tengah sungai.
KEKERINGAN: Warga Dusun Klampok Desa Geyer Kecamatan Geyer saat menyedot air di tengah sungai.

GROBOGAN, RadarPati,ID- Kekeringan turut melanda Dusun Klampok Desa Geyer Kecamatan Geyer. Warga setempat terpaksa mengandalkan air resapan dari sungai hingga membeli air tangki. Padahal di sana telah terbangun Pamsimas sejak 2014.

Hal itu diungkapkan salah satu warga, Nur Kholis, selama ini warga membuat sumur resapan di pinggir dan tengah sungai yang mengering. Dengan kedalaman dua hingga tiga meter.

Kemudian mereka memasang gorong-gorong untuk menyedot air dan mengalirkannya ke rumah-rumah terdekat menggunakan pipa dan alat penyedot.

“Semisal hari ini disedot, nanti harus nunggu dua hari baru bisa diambil lagi airnya. Airnya pun asin, kalau buat mandi lengket,”imbuhnya.

Sedangkan air tangki yang dibeli, warga menyimpannya di tong besar sebagai cadangan yang hanya cukup untuk tiga sampai lima hari.

“Kalau beli sendiri mahal, bisa sampai Rp 260 ribu. Karena ngambilnya dari Waduk Kedung Ombo. Makanya warga mengupayakan untuk mencari bantuan,” ungkapnya.

Padahal, di desanya terdapat tower Pamsimas. Sebenarnya ada tower Pamsimas.

"Seharusnya menjadi penampungan air untuk warga di desa ini. Namun, sejak terbangun malah tidak pernah difungsikan. Karena emang nggak keluar airnya,” ujarnya.

Menurutnya, pipa yang dipasang untuk menyedot air dari tanah hanya mencapai kedalaman dua puluh empat meter.

Sementara sumber air diperkirakan berada pada kedalaman lima puluh meter.

Pihaknya sudah melaporkan hal ini, namun belum ada tindakan perbaikan.

"Kami juga melihat potensi adanya sumber air di hutan milik Perhutani KPH Gundih yang jaraknya sekitar dua kilometer dari desa. Kami harap Perhutani dapat membantu dengan memberikan izin untuk mengeksplorasi sumber air tersebut. Serta mengaktifkan kembali Pamsimas,” ungkap warga lainnya, Supriyadi.

Sedangkan, Kepala Disperakim Grobogan Endang Sulistyoningsih melalui Sub Koordinator Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Perumahan dan Permukiman Kumuh, Rudy Leksono mengungkapkan, di daerah tersebut hanya ada sumber air dari atas. Sehingga hanya bisa dibuatkan sumur air dangkal.

“Kami sudah muter wilayah situ berulang kali menggunakan alat geolistrik. Akuifer daerah Geyer, saat itu baru di kedalaman berapa sudah ketemu clay atau lempung. Sehingga dipastikan tidak bisa meresap air. Untuk pembuatan sumur air dalam tidak bisa,” jelasnya,

Pihaknya berharap, desa bisa mengusulkan pembuatan embung air hujan atau membuat resapan-resapan. (int)

Editor : Abdul Rochim
#sungai #pamsimas #dropping #kekeringan #sumber air