Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Tercatat, di Grobogan 117 Balita Kekurangan Gizi

Intan Maylani Sabrina • Kamis, 20 Juni 2024 | 04:03 WIB

 

DIPANTAU: Petugas saat melakukan pemantauan dan pelacakan balita gizi buruk. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)
DIPANTAU: Petugas saat melakukan pemantauan dan pelacakan balita gizi buruk. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)

GROBOGAN, RADARPATI.ID - Selain stunting, gizi buruk turut menjadi perhatian.

Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan mencatat hingga April ada 117 kasus balita mengalami gizi buruk yang perlu dientaskan.

Kepala Dinkes Grobogan dr Slamet Widodo melalui Plt Subkoordinator Gizi, Remaja dan Usila Rumia Magdalena mengatakan, jumlah kasus gizi buruk terus berjalan setiap saat.

Di mana rincian kasus sejak Januari ada 97 balita, Februari 125 kasus, Maret 138 kasus dan April 117 kasus.

Balita yang mengalami kekurangan gizi mudah terserang berbagai penyakit penyerta.

”Minimnya pengetahuan pemenuhan gizi anak dan penyakit penyerta menjadi penyebab utama masih adanya gizi buruk. Penyakit penyerta yang ditemukan seperti TBC hingga bronkopneumonia.

Selain itu ada juga yang disebabkan penyakit infeksi dan kurangnya asupan nutrisi yang rata-rata dialami oleh masyarakat kurang mampu dan berada di pedesaan,” jelasnya.

Sejumlah anak yang terdata kekurangan gizi tersebut mendapatkan penanganan rawat jalan hingga di rumah sakit (RS).

”Tentunya selama proses penanganan ada yang dilakukan di RSUD dr Soedjati dan juga rawat jalan di rumah.

Baru-baru ini ada 11 balita yang mengalami kenaikan berat badan (bb) bahkan hingga sembuh. Untuk kenaikan rata-rata antara 0,1 gram dan 0,2 gram,” jelasnya.

Dalam menggenjot kenaikan BB, Dinkes Grobogan mulai memfokuskan pada program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sesuai standar gizi dengan berbasis kearifan lokal.

PMT lokal dirasa penting. Di mana harus memenuhi syarat karbohidrat, protein hewani, vitamin dan mineral.

”Program ini untuk meningkatkan BB bagi anak yang mengalami malnutrisi, hingga stunting.

Diberikan dengan kriteria anak balita yang tiga kali berturut-turut tidak naik timbangannya. Serta berat badannya pada KMS terletak di garis merah,” jelasnya.

Selain PMT lokal, program lainnya dengan pemberian susu atas rekomendasi dokter (iso call) dan multivitamin dengan Labumin, serta pemberian pangan olahan kebutuhan medis khusus (PKMK).

Menurutnya, proses pemulihan penderita kasus gizi buruk, memakan waktu selama tiga bulan untuk bisa naik 0,05 persen.

Sebab untuk memperbaiki anak dengan kasus gizi buruk itu tidak dapat sekaligus, melainkan melalui tahapan berupa fase 1 stabilitasi, fase 2 transisidan fase 3 rehabilitasi. (int/him)

Editor : Abdul Rochim
#bayi #gizi #grobogan #stunting