Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Perayaan Waisak Digelar Sederhana, Hanya Diisi Doa, Begini Prosesinya!

Fikri Thoharudin • Jumat, 24 Mei 2024 | 02:45 WIB
KHIDMAT: Umat Buddha Dharma Indonesia lakukan sembahyang di Vihara Vimalakirti Dusun Katong, Desa Katong, Grobogan, kemarin. (DOKUMENTASI UNTUK RADAR KUDUS)
KHIDMAT: Umat Buddha Dharma Indonesia lakukan sembahyang di Vihara Vimalakirti Dusun Katong, Desa Katong, Grobogan, kemarin. (DOKUMENTASI UNTUK RADAR KUDUS)

GROBOGAN, RADARPATI.ID  - Umat Buddha di Dusun Katong, Desa Katong, Kecamatan Toroh, Grobogan, merayakan Waisak 2568 BE tahun 2024 secara sederhana.

Kalau di lokasi lain banyak upacaranya, seperti mengambil api maupun air. Tapi kalau perayaan Waisak di desa itu cukup sederhana, seperti berdoa saja.

Anak-anak hingga lansia mulai mendatangi Vihara Vimalakirti sejak pukul 09.00.

Mereka yang kebanyakan merupakan tetangga beramah-tamah sembari menunggu warga yang lain untuk merayakan Waisak.

Dengan pakaian sederhana mereka menyatu satu sama lain. Sembari menggenggam Juzu atau Nenju (semacam tasbih dalam agama Islam) sebagai alat untuk menghitung doa yang dilafalkan.

Perayaan dimulai dengan doa Puja Bakti pukul 11.00 dan berakhir pukul 12.00 di Vihara  Vimalakirti pada Kamis (23/5).

Dihadiri oleh setidaknya 20 jemaat, baik anak-anak, generasi muda hingga lansia.

Sebagian besar perayaan umat Buddha memang terpusat seperti di Candi Borobudur.

Namun bagi warga Katong melakukan perayaan di Vihara Vimalakirti. Seperti tahun-tahun sebelumnya.

Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Kabupaten Grobogan, Sulastrini menyampaikan proses sembahyangan dilakukan dengan pemujaan dengan gohonzon sebagai perwujudan fisik ideal jiwa Buddha.

"Gohonzon ini tulisan dalam huruf Kanji yang diserap dari bahasa Sanskerta," sebutnya seusai sembahyang.

Menurutnya, gohonzon sendiri bertuliskan Nam myoho renge kyo yang artinya sebagai jantung kebangkitan alam semesta yang hidup. Sementara Waisak menjadi perayaan seluruh Buddha.

Lebih lanjut, Sulastrini menyampaikan di Kabupaten Grobogan terdapat sekitar 500 pemeluk Buddha.

"Kalau di aliran saya Buddha Dharma Indonesia (BDI) ada sekitar 150 orang yang tersebar di Desa Katong, Toroh, dan Tegalsumur," jelasnya.

Seusai sembahyangan tak terdapat perayaan secara khusus selain acara ramah tamah dan makan bersama.

"Kalau yang lain banyak upacaranya, seperti mengambil api maupun air. Tapi kalau di sini cukup sederhana seperti ini, hanya berdoa saja," tandasnya. (fik/zen)

 

Editor : Abdul Rochim
#budha #waisak #grobogan