Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Cerita Mistis Hutan Tontongan Grobogan, Ada Tengkorak Berjalan dan Tentara Tanpa Kepala

Achmad Ulil Albab • Minggu, 25 Februari 2024 | 23:55 WIB
SINGUP: Suasana warung milik Sri yang didirikan di kawasan Hutan Tontongan tepi Jalan Raya Gemolong-Purwodadi Jumat (23/2). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
SINGUP: Suasana warung milik Sri yang didirikan di kawasan Hutan Tontongan tepi Jalan Raya Gemolong-Purwodadi Jumat (23/2). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

 

GROBOGAN, RADARPATI.ID - Hutan Tontongan di Grobogan menjadi salah satu tempat eksekusi sekaligus kuburan massal bagi ratusan para terduga simpatisan PKI pasca 1965 di Jawa Tengah.

Termasuk riwayat penembakan misterius (petrus) pada 1982.


Hingga sekarang pun hutan itu acapkali menjadi tempat pembuangan mayat-mayat korban pembunuhan janggal.

Beragam cerita horor mewarnai kawasan yang masuk ke dalam Kecamatan Geyer ini.


Hutan Tontongan berada di 25 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Grobogan.

Hutan Tontongan yang dikenal angker oleh masyarakat sekitar.

Secara administratif hutan tersebut masuk ke dalam Desa Juworo, Kecamatan Geyer.


Desa itu sendiri terdiri dari sembilan dusun, meliputi Juworo, Tegalsari, Kedungtawing, Dlingo, Besole, Goprak, Ngandong, Kedungampo, dan Getas.

Berbekal peta navigasi online, wartawan mencoba mengunjungi lokasi pada Jumat (23/2) pagi. Kawasan itu terisolir.

Pemukiman tampak tidak padat. Jarak antar rumah warga saling berjauhan.

 

Wartawan pun sempat kesasar di hutan, dan bertanya setidaknya kepada delapan warga yang sedang mencari rumput untuk ternaknya.

Dari kesemuanya, tak ada yang tidak tahu di mana letak Hutan Tontongan. Secara faktual, ternyata letaknya hanya sekitar 500 meter bagian sisi timur dari Jalan Raya Gemolong-Purwodadi.

Hanya ada jalan setapak dengan kondisi tanah berlumpur sisa hujan.

Tak ada suara lain kecuali suara burung-burung dan dengung knalpot dari truk yang melintasi jalan raya.


Kondisi pepohonan yang rimbun menjadi penahan sinar matahari masuk ke dalam hutan.

Di sisi yang berbeda terlihat beberapa titik yang ditanami jagung oleh warga setempat.

Tak ada instalasi listrik yang menjalar ke hutan itu.

Dapat dipastikan malam hari gelap gulita. Kecuali rumah warga yang berada di sisi lainnya.


Salah satu pemilik warung degan yang berada di pinggir Jalan Raya Gemolong-Purwodadi, Sri, 52, menceritakan tak sedikit orang yang diperlihatkan kejadian janggal di daerah tersebut.

Sri membuka warung dari pagi sampai sore. Menjadi hal lumrah ketika malam hari warungnya dibuat tempat istirahat oleh sopir-sopir truk yang kelelahan atau warga yang bertugas menunggu kayu agar tidak dicuri.


"Pernah ada yang ditakuti pocongan tidur di meja dengan kain mori putih," bebernya sembari menunjukkan letak kejadian.

Tak tanggung-tanggung, bahkan ada juga yang pernah ditemani tidur oleh sosok ular berukuran besar.


Namun kebanyakan kejadian apes itu dialami oleh orang-orang dari daerah luar.

Meskipun terdapat satu dua warga setempat yang mengalaminya.

"Krek krak krek krak," ujar Sri sambil menirukan bunyi tengkorak berjalan yang pernah dilihat suaminya.


Selama sekitar 23 tahun membuka warung, kejadian yang menurut Sri paling menghebohkan yaitu sejumlah sosok yang berbaris dan berjalan masuk melewati warung bagian tengahnya.

Setelah itu melengang menuju hutan.

"Seragaman tentara. Ada yang tidak punya kepala," tegasnya sembari menunjukkan sisi-sisi warung yang membelakangi hutan.


Sementara itu warga dusun Getas, Tukiman, 68, yang kebetulan sedang membeli minum dan gorangan di warung milik Sri juga mengatakan bahwa kawasan Hutan Tontongan menjadi pusat munculnya hal seperti itu.

"Kerep. Katah mriki nek niku," tanggapnya soal munculnya penampakan.


Tukiman juga menceritakan dor-doran (penembakan, Red) yang terjadi setelah 1965 dan penembakan misterius 1982.

"Tegalane kulo nggih teng Tontongan," sebutnya.

Ia menerangkan, proses penggalian tanah yang ternyata akhirnya digunakan untuk dijadikan kuburan massal dari para korban digali pada saat pagi dan siang hari.

Sementara proses eksekusi dilakukan pada sore hingga malam hari.

"Orang-orang dijorokke ke dalam lubang, ditembak dari atas. Satu lobang bisa berisi 60 orang," ungkapnya.


"Ora olih ndelok. Kalau sore hari krungu suara dor dor dor langsung lari. Di Kretek Monggot itu juga dihadang truk kroak," imbuhnya sambil mengisahkan kondisi jalan waktu usia Tukiman hampir 10 tahun.


Saat Tukiman ditanya siapakah orang-orang yang menjadi korban penembakkan yang terjadi pada beberapa gelombang tersebut.

Diduga ialah simpatisan PKI dan para preman atau orang-orang nakal yang memiliki tato di tubuhnya.


"Sekarang kuburannya yawis ora ketok. Dulu itu atasnya ditanduri pohon secang sebagai penanda. Sekarang wis ditebangi dan beralih menjadi tanaman jagung," runutnya sembari mengaitkan penampakan yang sering muncul dengan sejarah yang melekat dengan Hutan Tontongan. (fik/aua)

Direktur RSUD Dr Soedirman (RSDS) Kebumen Arif Komedi.M Hafied/Radar Jogja
Direktur RSUD Dr Soedirman (RSDS) Kebumen Arif Komedi.M Hafied/Radar Jogja
Editor : Achmad Ulil Albab
#eksekusi #Cerita #horor #PKI 1965 #hutan #grobogan #mistis