Mengenal Dwi Nurhasanah: Sosok Desainer Muda yang Perluas Ruang Bakti Jadi Cakades di Grobogan

Intan Maylani Sabrina • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 18:55 WIB
(Dwi Nurhasanah)
(Dwi Nurhasanah)
GROBOGAN- ​Berawal dari kecintaannya pada dunia fashion dan kegigihannya membangun brand lokal Dwiwarna.id, Dwi Nurhasanah kini mengambil langkah besar dalam hidupnya. 

Sosok desainer muda yang dikenal aktif dalam berbagai aksi sosial serta kemanusiaan ini memutuskan untuk memperluas ruang baktinya dengan mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Mojoagung. 

Keputusan tersebut lahir dari keprihatinannya yang mendalam melihat dinamika politik di tingkat desa yang kerap kali didominasi oleh perputaran uang atau praktik money politic. 

Sebagai seorang pelaku usaha yang terbiasa merintis segala sesuatu dari bawah, ia merasa prihatin ketika pemilihan pemimpin desa justru disamakan dengan ajang lotre, tempat modal uang di awal menjadi penentu utama kemenangan. 

Padahal, jabatan kepala desa memegang peranan yang sangat vital karena menentukan nasib dan kualitas hidup seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak, kaum dewasa, hingga para lansia. 
 
​Menurutnya, mentalitas yang mematok pilihan berdasarkan "siapa yang memberi uang terbanyak" adalah pola pikir yang merusak masa depan desa. 

Praktik politik uang hanya memberikan kenikmatan sesaat di awal, tetapi mengorbankan pembangunan, pelayanan publik, serta cita-cita desa selama bertahun-tahun ke depan.

Terlebih dengan masa jabatan kepala desa yang kini diperpanjang hingga delapan tahun. 

Ia meyakini bahwa di dalam hati kecilnya, masyarakat sebenarnya sudah merasa muak dengan sistem seperti ini dan merindukan perubahan yang nyata. 

Bagi Dwi, ikhtiar membangun desa seharusnya dijalankan seperti mengelola bisnis yang sehat, yaitu berawal dari niat tulus, gagasan, dan kerja keras untuk menghasilkan kemanfaatan serta menghasilkan nilai tambah, bukan berdasar pada modal uang yang digembor-gemborkan di awal.  

​Perjalanan karier Dwi sendiri dibentuk oleh proses belajar dan kedisiplinan yang panjang di dunia kreatif. 

Ia memulai usahanya dari sekadar berjualan baju secara daring, hingga akhirnya menyadari pentingnya membangun personal branding untuk memperkuat posisi usahanya. 

Keberaniannya untuk melangkah lebih jauh terbukti saat ia memberanikan diri tampil di ajang Jogja Fashion Week. 

KELUARGA: Keluarga Dwi Nurhasanah Cakades Mojoagung Kecamatan Karangrayung Kabupaten Grobogan.
KELUARGA: Keluarga Dwi Nurhasanah Cakades Mojoagung Kecamatan Karangrayung Kabupaten Grobogan.

Momen tersebut menjadi titik balik penting karena di sana ia bertemu dengan seniornya, Dani Paraswati, yang mengenalkannya pada asosiasi desainer nasional, Indonesia Fashion Chamber Chapter Jogja. 

Untuk bisa bergabung dengan organisasi tersebut, Dwi harus melewati proses kurasi yang sangat ketat.

Mulai dari menyerahkan sketsa desain, mengurus kelengkapan perizinan bisnis, hingga mendapatkan rekomendasi resmi dari dua desainer senior. 

Pengalaman berproses secara bertahap, profesional, dan teruji inilah yang membentuk karakter kepemimpinannya menjadi lebih matang serta terbiasa bekerja berbasis proses yang jelas dan bertanggung jawab.  

​Membawa semangat generasi muda dan latar belakang dari industri kreatif, Dwi menawarkan gaya kepemimpinan yang lebih kolaboratif, terbuka, dan dekat dengan warga. 

Ia menilai bahwa mengelola pemerintahan desa sebenarnya sangat sederhana dan tidak rumit apabila setiap struktur yang ada untuk menjalankan fungsinya secara optimal, jujur, dan bertanggung jawab. 

Berangkat dari pemikiran tersebut, ia merumuskan visi utama untuk mewujudkan Mojoagung sebagai desa yang maju, mandiri, transparan, dan sejahtera melalui pemberdayaan serta kerja sama seluruh elemen masyarakat.  

​Untuk mewujudkan gagasan tersebut secara nyata dan rasional, Dwi secara sengaja memisahkan antara visi misi yang bersifat umum dengan janji program kerja yang konkret agar masyarakat dapat memahami langkah kerjanya secara lebih rinci dan mudah. 

Dalam hal pelayanan sosial dan kesehatan, ia menyiapkan program pembagian sembako secara rutin, terjadwal, dan merata bagi para lansia serta warga yang membutuhkan. 

Ia juga berkomitmen menyediakan penambahan armada mobil siaga desa lengkap beserta sopirnya yang siap melayani warga selama 24 jam secara 100 persen gratis. 

Di bidang kesehatan masyarakat, Dwi mendorong kolaborasi erat bersama puskesmas melalui optimalisasi Poliklinik Kesehatan Desa (PKD) guna menghadirkan pelayanan pengobatan gratis setiap hari.  

​Perhatiannya terhadap pembangunan potensi lokal juga dituangkan melalui rencana pembangunan jogging track dan optimalisasi lapangan desa untuk memfasilitasi kegiatan olahraga warga. 

Tak kalah penting, Dwi menyiapkan pendampingan serta inkubasi bisnis bagi masyarakat di semua lini usaha, memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan positif karang taruna dan organisasi kemasyarakatan, serta mengawal pendampingan pendidikan anak-anak desa hingga meraih gelar sarjana. 

Demi menjaga transparasni dan memberantas pungutan liar.

Ia juga menegaskan bahwa hasil pengelolaan tanah bengkok desa nantinya akan dikembalikan sepenuhnya secara terbuka untuk mendanai berbagai program dan kepentingan masyarakat.  

​Bagi Dwi Nurhasanah, seluruh ide, gagasan, dan janji program yang dirancangnya bukanlah sekadar wacana manis untuk bahan pidato, melainkan komitmen nyata yang harus diwujudkan di lapangan. 

Ia meyakini bahwa pemerintahan pusat sejatinya telah menyiapkan berbagai regulasi dan fasilitas untuk kesejahteraan warga, sehingga kunci utamanya kini terletak pada kepedulian, kejujuran, dan keseriusan pemimpin desa dalam mengeksekusinya tanpa terbebani oleh modal politik uang. (int)

Editor : Intan Maylani Sabrina
cakades dwinurhasanah dwiwarna.id fashion grobogan