Mengenal Lebih Dekat Dandim 0717/Grobogan Letkol Inf Wefri Sandiyanto

Intan Maylani Sabrina • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 20:13 WIB
(Dandim 0717/Grobogan Letkol Inf Wefri Sandiyanto)
(Dandim 0717/Grobogan Letkol Inf Wefri Sandiyanto)

GROBOGAN - Terlahir dan dibesarkan dalam lingkup keluarga besar TNI-Polri, Letkol Inf Wefri Sandiyanto—yang kini memegang tongkat komando Komandan Kodim (Dandim) 0717/Grobogan.

Dandim memiliki garis keturunan perwira dan prajurit tangguh.

Ayahnya merupakan seorang purnawirawan TNI Korps Pasukan Khusus (Kopassus), sementara keluarga dari pihak ibu dan kakeknya juga TNI.

Dari enam bersaudara—tiga laki-laki dan tiga perempuan—ia beserta dua saudara laki-lakinya memilih mendedikasikan hidup sebagai prajurit TNI. 

Namun, Letkol Inf Wefri mencatatkan jejak khusus sebagai satu-satunya di dalam keluarga yang menembus kawah candradimuka Akademi Militer (Akmil) lulusan 2006.  

Selama 16 tahun mengabdi, waktunya dihabiskan menembus belantara dan medan penugasan di luar Pulau Jawa.  

Langkah awalnya dimulai di wilayah Kodam IX/Udayana, menjejaki medan Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Di sana, ia mengabdi di Batalyon Infanteri (Yonif) 744/SYB, dilanjutkan ke Brigif 21/Komodo di Kupang, hingga ditempatkan di Yonif Mekanis 741/GN di Bali. 

Dari Udayana, langkahnya berlanjut ke Pulau Sulawesi bersama Kodam XIV/Hasanuddin di Makassar, menempati posisi Perwira Seksi Operasi (Pasi Ops) Korem hingga dipercaya menjabat Wakil Komandan Batalyon (Wadanyon) Infanteri 721/Makkasau.  

Di balik keteguhan dan kedisiplinan Letkol Inf Wefri di medan operasi, ada sosok perempuan anggun yang menjadi jangkar ketenangan jiwanya: Lena Aryani, seorang kawan setia yang mempersunting hatinya dan berasal dari Kota Kembang, Bandung. 

Pernikahan mereka yang diresmikan saat ia bertugas di bumi NTT menjadi awal dari babak perjuangan bersama sebagai keluarga prajurit.  

Tantangan terbesar hadir saat Letkol Inf Wefri menjabat Wadanyonif 721/Makkasau dan harus memimpin Satgas Mobile di wilayah berisiko tinggi Papua: Kabupaten Puncak Jaya dan Kabupaten Puncak (Ilaga) selama 1 tahun 3 bulan (15 bulan).  

Tugas di Puncak Jaya bukan sekadar menguji taktik bertempur, melainkan ujian keteguhan jiwa. 

Saat diberangkatkan menjalankan penugasan operasi tersebut, ia harus merelakan meninggalkan sang buah hati yang baru berusia 6 bulan di bawah asuhan hangat sang istri.  

"Saat saya berangkat, anak pertama saya baru berumur 6 bulan, belum bisa jalan," kenangnya mengingat masa-masa di medan penugasan.

Di tengah keterbatasan komunikasi dan tingginya biaya internet satelit di wilayah terpencil Papua kala itu, kewaspadaan di lapangan tidak boleh kendur sedikit pun. 

Kontak tembak dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM)/Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) menjadi bagian dari dinamika operasi malam. Baku tembak, taktik ambush (penghadangan), hingga patroli menyisir jurang dan rimba menjadi santapan harian.  

Bagi Letkol Inf Wefri, keberhasilan operasi tempur tidak hanya diukur dari penguasaan medan, melainkan juga keselamatan pasukan. 

Prinsip "pergi lengkap, pulang lengkap" ia pegang teguh. Di samping menerapkan disiplin tempur ketat, pendekatan teritorial—seperti pengobatan gratis, bantuan sosial, hingga mengajar anak-anak Papua—menjadi kunci utama merebut hati masyarakat setempat.  

Selesai menuntaskan Pendidikan Reguler Sekolah Staf dan Komando Landasan Angkatan Darat (Seskoad), pengalaman berharga di medan operasi tidak ia simpan sendiri. 

Bertugas di Rindam III/Siliwangi (Bandung) pada Bagian Latihan, Letkol Inf Wefri menuangkan seluruh pengalaman lapangan untuk melatih batalyon-batalyon pemukul yang siap berangkat tugas ke Papua, seperti Yonif 310/KK dan Yonif 300/Raider.  

Kebanggaannya membuncah saat satuan-satuan yang ditempanya berhasil menuntaskan misi di daerah operasi tanpa cela, bahkan mendapatkan penghargaan langsung dari Panglima TNI.  

Tak berhenti di situ, kepemimpinannya berlanjut saat dipercaya menjabat sebagai Komandan Sekolah Calon Bintara (Dansecaba) Rindam III/Siliwangi. 

Di bawah gemblengannya, tak kurang dari 800 prajurit Bintara baru dan Bintara reguler dididik menjadi tulang punggung satuan.

Kedisiplinan tempur, kekompakan, serta kewaspadaan yang ia petik dari kerasnya rimba Papua dan NTT ia tumpahkan menjadi kurikulum hidup bagi para prajurit muda.  

"Di daerah operasi, sejengkal tanah adalah daerah rawan. Tidak ada tempat yang benar-benar aman.

Kedisiplinan tempur, kekompakan, dan kewaspadaan adalah kunci utama keselamatan," pukasnya.

Kini, dengan deretan jam terbang tempur serta rekam jejak pembinaan satuan yang matang, Letkol Inf Wefri Sandiyanto membawa napas kepemimpinan yang tegas, terukur, dan humanis dalam mengawal tugas-tugas teritorial sebagai Dandim 0717/Grobogan. (*)

Editor : Intan Maylani Sabrina
TNI hut tni grobogan dandim kodim