Baca Juga: 3 Rekomendasi Jenis Musik yang Enak Didengar Sambil Baca Buku
Ia kemudian mulai mengerjakan novel pertamanya, Hear the Wind Sing, yang diterbitkan pada 1979 dan memperoleh penghargaan Gunzo Prize untuk penulis pendatang baru.
Salah satu bagian penting dari perjalanan Murakami adalah keputusannya meninggalkan bisnis klub jazz untuk menjadi penulis penuh waktu.
Pada awalnya, menulis bukanlah sumber penghasilan utamanya.
Bahkan, pendapatan dari klub jazz yang dikelolanya masih lebih besar dibandingkan penghasilan dari kegiatan menulis.
Namun, setelah menerbitkan beberapa karya, Murakami mulai mempertimbangkan untuk mengubah arah kehidupannya.
Ia akhirnya menjual bisnisnya dan memusatkan seluruh perhatian pada penulisan novel.
Keputusan tersebut bukan tanpa risiko.
Orang orang di sekitarnya sempat mempertanyakan pilihannya karena ia meninggalkan bisnis yang sudah memberikan penghasilan relatif stabil.
Meskipun demikian, Murakami memilih menjalani keputusan tersebut dengan kesungguhan.
Baginya, menjadi penulis profesional berarti memberikan waktu dan perhatian yang cukup untuk menghasilkan karya.
Pengalaman ini memperlihatkan bahwa panggilan hidup terkadang muncul melalui keputusan yang mengubah arah kehidupan seseorang.
Setelah memutuskan menjadi penulis profesional, Murakami mulai membangun pola kehidupan yang lebih teratur.
Dalam wawancaranya dengan The Guardian pada 2018, ia menjelaskan kebiasaan bangun sekitar pukul empat pagi untuk menulis selama lima hingga enam jam.
Setelah itu, ia melakukan olahraga lari sebagai bagian dari rutinitas hariannya.
Kebiasaan tersebut bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan bentuk kedisiplinan untuk mempertahankan produktivitas dalam jangka panjang.
Murakami menyadari bahwa pekerjaan menulis membutuhkan konsentrasi dan ketahanan fisik.
Oleh karena itu, ia berusaha menjaga keseimbangan antara kegiatan intelektual dan kesehatan tubuh.
Ia juga menganggap kesendirian, kesabaran, serta konsistensi sebagai bagian penting dalam proses kreatif seorang novelis.
Dalam karya bukunya yang berjudul Novelist as a Vocation, Murakami tidak hanya membicarakan teknik penulisan, tetapi juga hubungan antara seorang penulis dan karya yang diciptakannya.
Salah satu gagasan yang disampaikan dalam buku tersebut adalah bahwa ketika seorang novelis menciptakan sebuah novel, pada saat yang sama novel tersebut juga ikut membentuk dirinya sebagai manusia.
Dengan kata lain, menulis bukan hanya kegiatan menghasilkan cerita untuk dibaca orang lain.
Proses tersebut juga menjadi perjalanan untuk memahami ingatan, pengalaman, pemikiran, dan imajinasi pribadi.
Murakami menggambarkan ingatan sebagai semacam tempat penyimpanan mental yang dapat digunakan seorang penulis untuk menemukan bahan cerita.
Pengalaman kehidupan sehari hari, pengamatan terhadap lingkungan, dan berbagai hal yang pernah dialami dapat menjadi sumber inspirasi.
Gagasan ini menunjukkan bahwa pengalaman pribadi memiliki peran dalam membangun karakter dan dunia cerita yang terasa hidup.
Konsistensi Murakami dalam menulis akhirnya membawanya menjadi salah satu novelis Jepang yang dikenal secara internasional.
Beberapa karyanya yang terkenal antara lain, Norwegian Wood, Kafka on the Shore, 1Q84, dan The Wind-Up Bird Chronicle.
Karya karyanya telah diterjemahkan ke lebih dari 50 bahasa.
Novel novelnya dikenal melalui perpaduan kehidupan sehari hari, kesendirian, hubungan antarmanusia, serta unsur surealisme dan dunia metafisik.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pengakuan terhadap seorang penulis tidak selalu datang secara langsung.
Murakami membangun kariernya melalui proses panjang yang melibatkan eksperimen, penolakan, perubahan gaya, dan konsistensi dalam berkarya.
Kisah Haruki Murakami memberikan gambaran bahwa menjadi novelis profesional tidak hanya bergantung pada bakat atau inspirasi sesaat.
Ada proses panjang yang harus dijalani untuk membangun kehidupan sebagai seorang penulis
Baca Juga: SOSOK Amalia Choirunnisa Asal Grobogan yang Belajar Dari Kisah Hidup Warga Binaan