KUDUS - Kekeringan mulai membuat warga Desa Karangampel, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, harus mengatur ulang kebutuhan air sehari-hari.
Bahkan, sebagian warga rela terjaga hingga dini hari untuk mendapatkan air dari sumur bor yang debitnya semakin terbatas.
Baca Juga: Siswa SMK RUS Kudus Bikin Film Animasi Sa’i & Uti, Angkat Kuliner hingga Wisata
KONDISI krisis air bersih tersebut dirasakan warga RT 3/RW 5 Desa Karangampel.
Memasuki pekan ketiga kekurangan air, warga tidak lagi bisa mengandalkan sumur bor seperti biasanya. Air yang keluar terkadang hanya sedikit dan kemudian berhenti selama beberapa jam.
Salah seorang warga sekaligus Ketua RT 3/RW 5, Siti Juarini, 35, mengatakan kondisi kekeringan seperti ini baru pertama kali dialaminya.
Menurut dia, kesulitan mendapatkan air mulai dirasakan sejak sekitar Agustus.
”Dari sebulan kemarin, sekitar Agustus. Ini baru kali ini. Tahun-tahun sebelumnya tidak susah air seperti ini,” kata Juarini, Rabu (30/9).
Di wilayah RT 3/RW 5 tersebut, terdapat sekitar 60 kepala keluarga (KK). Warga sebenarnya masih memiliki akses terhadap sumur bor.
Namun, debit air yang keluar tidak cukup deras untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga.
”Airnya tidak lancar, volumenya kecil. Bahkan kadang mampet. Nanti satu sampai dua jam tidak ada airnya,” ujarnya.
Kondisi itu membuat warga harus menunggu air kembali mengalir sebelum bisa menampungnya. Air yang tersedia juga harus diprioritaskan untuk kebutuhan tertentu.
Keperluan rumah tangga yang membutuhkan banyak air, seperti mandi dan mencuci pakaian, menjadi lebih sulit dilakukan.
Warga pun harus menghemat air agar persediaan yang didapat bisa bertahan lebih lama.
Bahkan, sebagian warga memilih memanfaatkan waktu malam untuk mencari air.
Ketika sumur bor kembali mengeluarkan air, warga berusaha menampungnya menggunakan ember sebagai persediaan untuk kebutuhan keluarga keesokan harinya.
”Kadang kalau malam ada yang bergadang mengambil air sekitar jam satu malam. Ditampung dua atau tiga ember untuk kebutuhan anak sekolah besok,” jelasnya.
Persediaan yang ditampung tersebut digunakan secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Setelah air habis, warga kembali menunggu hingga sumur bor mengeluarkan air.
”Setiap hari seperti itu. Tiga sampai empat jam kemudian menunggu air lagi,” imbuh Juarini.
Keterbatasan air juga berpengaruh terhadap aktivitas mandi. Juarini mengaku harus mencari alternatif tempat untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
”Saya kalau mandi ke rumah mertua di Garung Lor. Di sana airnya masih ada,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, bantuan air bersih dari Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Jawa Tengah disambut baik warga. Sebanyak 26 ribu liter air bersih disalurkan ke Desa Karangampel.
”Alhamdulillah ada bantuan air seperti ini,” ujar Juarini.
Bantuan tersebut menjadi bagian dari bakti sosial dalam rangka memperingati Hari Jadi Bid Propam Polri ke-24. Selain Karangampel, distribusi air bersih juga menyasar Desa Kedungdowo dan Desa Setrokalangan.
Pama Subdit Paminal Polda Jateng Aris Prabowo mengatakan penyaluran air bersih dilakukan sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat yang mengalami keterbatasan air selama musim kemarau.
“Bid Propam Polda Jawa Tengah memberikan bansos berupa air bersih dalam rangka Hari Jadi Bid Propam Polri yang ke-24. Kami memberikan bantuan air di Desa Karangampel sebesar 26.000 liter,” kata Aris.
Menurut dia, air bersih menjadi salah satu kebutuhan yang paling banyak diperlukan masyarakat ketika kekeringan melanda.
Karena itu, bantuan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga di wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air.
“Dari situasi kekeringan, kebanyakan masyarakat membutuhkan air bersih,” jelasnya.
Sementara itu, Kasi Propam Polres Kudus Luk Har mengatakan terdapat tiga desa di Kudus yang menjadi sasaran penyaluran bantuan air bersih.
Ketiganya yakni Desa Kedungdowo, Karangampel, dan Setrokalangan.
“Hari ini Bid Propam Polda Jateng hadir memberikan bantuan berupa penyaluran air bersih ke warga Desa Karangampel. Nanti ada tiga lokasi yang kami bantu, yakni Kedungdowo, Karangampel, dan Setrokalangan,” katanya.
Secara keseluruhan, bantuan tersebut diperkirakan menyasar sekitar 140 KK. Distribusi dilakukan di sejumlah titik yang telah ditentukan berdasarkan kebutuhan masyarakat.
Luk Har berharap bantuan tersebut dapat memberikan manfaat langsung bagi warga yang kesulitan memperoleh air bersih. Terlebih, air merupakan kebutuhan pokok yang tidak dapat ditunda.
Penyaluran air bersih tersebut merupakan bagian dari rangkaian bakti sosial Bid Propam Polda Jateng di sejumlah kabupaten di Jawa Tengah.
Kegiatan dilaksanakan secara bergiliran di wilayah yang membutuhkan bantuan.
“Untuk hari ini Bid Propam melaksanakan kegiatan di Kudus. Besok pagi rencananya dilaksanakan di Kabupaten Jepara. Kemarin sudah di Pati, hari ini di Kudus, dan besok di Jepara,” ujar Luk Har. (*/him)
Editor : Abdul Rochim