RADAR PATI.JAWAPOS.COM – Nama Pierre Andries Tendean lekat dengan sejarah peristiwa 1 Oktober 1965.
Namun, sebelum dikenal sebagai ajudan Jenderal A.H. Nasution dan kemudian gugur di Lubang Buaya, Pierre Tendean telah menjalani perjalanan militer dengan sejumlah penugasan penting.
Pierre Tendean lahir di Jakarta pada 21 Januari 1939. Sejak masih muda, ia telah memiliki keinginan untuk menjadi tentara.
Baca Juga: Sejarah Masjid Agung Pati, Arsitekturnya Unik Ada Menara di Tengah
Cita-cita tersebut kemudian diwujudkannya dengan menempuh pendidikan di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD).
Semasa menjalani pendidikan militer, Pierre tidak hanya mendapatkan pembelajaran di lingkungan akademi.
Ia juga terlibat dalam operasi militer untuk menumpas pemberontakan PRRI di wilayah Sumatera.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Pierre mendapat penugasan sebagai Komandan Peleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Medan dengan pangkat Letnan Dua.
Karier militernya kemudian berkembang ketika Pierre bergabung dengan Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD).
Dari satuan tersebut, ia mendapat tugas ke Malaysia pada masa konfrontasi Indonesia-Malaysia.
Penugasan di bidang intelijen tersebut menjadi salah satu pengalaman penting dalam karier Pierre. Setelah itu, pangkatnya meningkat menjadi Letnan Satu.
Pierre kemudian mendapat tugas sebagai ajudan Jenderal A.H. Nasution.
Posisi inilah yang membuat namanya tercatat dalam salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah Indonesia.
Pada dini hari 1 Oktober 1965, pasukan Cakrabirawa mendatangi kediaman A.H. Nasution. Nasution menjadi salah satu target penculikan.
Dalam situasi tersebut, Pierre Tendean disebut tidak dikenali sebagai ajudan dan justru dibawa oleh pasukan yang datang ke kediaman Nasution.
Sementara itu, A.H. Nasution berhasil menyelamatkan diri dengan melompati pagar rumahnya meski mengalami luka pada bagian kaki.
Pierre kemudian dibawa ke kawasan Lubang Buaya, Halim Perdanakusuma. Ia akhirnya dieksekusi bersama sejumlah perwira Angkatan Darat lainnya.
Jasad Pierre Tendean kemudian ditemukan di dalam sumur tua di Lubang Buaya dan dievakuasi pada 4 Oktober 1965.
Pierre dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pemerintah Indonesia kemudian menganugerahkan gelar Pahlawan Revolusi kepadanya.
Selain gelar tersebut, pangkat Pierre Tendean dinaikkan satu tingkat secara anumerta menjadi Kapten. (*)
Editor : Abdul Rochim