RADAR PATI - Di tengah gempuran budaya modern, masyarakat Dukuh Kedung Panjang, Desa Soneyan, Margoyoso, Kabupaten Pati tetap mempertahankan tradisi wayang topeng.
Kesenian itu telah diwariskan secara turun-temurun sejak sekitar tahun 1600-an.
Andre Faidhil Falah, Pati
SUARA gamelan Jawa mengalun pelan dari panggung di Dukuh Kedung Panjang, Desa Soneyan, Margoyoso, Kabupaten Pati.
Baca Juga: Ayam Murah di Bawah HPP, Peternak di Pati Mengaku Rugi hingga Segini
Satu per satu para penari memasuki arena dengan mengenakan busana tradisional dan topeng berwarna-warni.
Berbeda dengan pertunjukan topeng pada umumnya, topeng yang mereka kenakan tidak diikat di wajah, melainkan digigit selama pementasan berlangsung.
Pertunjukan wayang topeng itu kembali digelar sebagai bagian dari tradisi sedekah bumi, sebuah ritual tahunan yang menjadi ungkapan syukur masyarakat atas hasil panen.
Tradisi ini bukan sekadar hiburan, tetapi telah menjadi bagian dari identitas warga Kedung Panjang yang diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun.
Kabupaten Pati memang memiliki beragam kesenian tradisional, namun Wayang Topeng Kedung Panjang menjadi salah satu yang paling khas.
Kesenian ini tetap bertahan di tengah perkembangan zaman karena terus dijaga oleh masyarakat setempat dari generasi ke generasi.
Keunikan lainnya terletak pada para pemainnya. Seluruh pemeran wajib berasal dari warga Dukuh Kedung Panjang.
Masyarakat setempat meyakini, apabila dimainkan oleh orang luar, pertunjukan tidak akan berjalan dengan baik bahkan dapat mendatangkan kesialan.
Salah seorang pemain senior, Suparji, mengaku telah menjadi bagian dari pertunjukan wayang topeng sejak 1987.
Dalam pementasan kali ini ia memerankan tokoh patih dalam lakon Among Tani atau Joko Tani, yang mengisahkan kehidupan para petani.
“Saya sudah tampil sejak tahun 1987. Dalam satu pertunjukan, satu orang bisa memerankan sampai tiga tokoh,” ujarnya.
Lakon yang diangkat pun selalu berkaitan dengan kehidupan masyarakat agraris.
Hal itu selaras dengan makna sedekah bumi sebagai bentuk rasa syukur atas hasil pertanian yang melimpah.
Kepala Desa Soneyan, Margi Siswanto, menjelaskan bahwa Wayang Topeng Kedung Panjang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1600-an.
Kesenian tersebut diyakini berasal dari pengaruh Keraton Surakarta yang kemudian berkembang di wilayah pesisir utara Jawa, khususnya di Kedung Panjang.
Menurutnya, seluruh pemeran merupakan warga asli desa karena tradisi itu memang diwariskan secara turun-temurun.
"Pemeran wayang topeng ini murni dari masyarakat Kedung Panjang. Tidak pernah diperankan masyarakat lain karena memang diwariskan secara turun-temurun," katanya.
Untuk memastikan kesenian itu tidak punah, pemerintah desa bersama masyarakat membentuk sanggar budaya sebagai tempat belajar bagi generasi muda.
Regenerasi terus dilakukan agar anak-anak dan remaja mengenal sekaligus mampu memainkan Wayang Topeng.
Upaya pelestarian tersebut membuahkan hasil. Wayang Topeng Kedung Panjang kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Bagi Suharso, yang kini menjadi dalang sekaligus pengajar Wayang Topeng, kesenian itu sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat sejak zaman leluhurnya.
"Sejak zaman kakek saya, wayang topeng sudah ada di sini. Dulu saya menjadi pemain, kemudian sejak 2016 menjadi dalang," tuturnya.
Ia menjelaskan, satu kelompok pementasan terdiri atas sekitar 13 pemeran yang diiringi sedikitnya 10 orang penabuh gamelan.
Para pemain harus menguasai setiap gerakan karena selama tampil mereka menggigit topeng sehingga membutuhkan keseimbangan dan konsentrasi tinggi agar tidak saling bertabrakan.
"Wayang topeng ini seperti wayang orang, tetapi para pemain memakai topeng. Gerakannya harus benar-benar dikuasai," jelasnya.
Bagi warga Kedung Panjang, pertunjukan Wayang Topeng bukan sekadar seni pertunjukan. Melainkan bagian dari syarat wajib pelaksanaan sedekah bumi. Tradisi itu selalu digelar setiap Sabtu Kliwon pada bulan Apit dalam penanggalan Jawa.
Seiring perjalanan waktu, fungsi Wayang Topeng juga berkembang. Jika dahulu dipercaya sebagai bagian dari ritual agar tanaman tumbuh subur dan panen melimpah.
Kini pertunjukan tersebut juga hadir dalam berbagai acara penting masyarakat, mulai dari khitanan, pernikahan, hingga peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. (*/him)
Editor : Abdul Rochim