Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

HARU! Sosok Danu dan Seril Anak Petani Blora yang Tembus Final Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia

Abdul Rochim • Senin, 22 Juni 2026 | 14:32 WIB

PRAKTIKUM : Danu Suryanto (kiri), Seril Nur Aini (tengah) dan guru Kimia SRMA 18 Blora
Vinsensius Maunia Singgih Husada (kanan) menunjukkan hasil penelitian omes kayu untuk
Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026. (ARIF FAKHRIAN KHALIM/ RADAR PATI)
PRAKTIKUM : Danu Suryanto (kiri), Seril Nur Aini (tengah) dan guru Kimia SRMA 18 Blora Vinsensius Maunia Singgih Husada (kanan) menunjukkan hasil penelitian omes kayu untuk Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026. (ARIF FAKHRIAN KHALIM/ RADAR PATI)

BLORA – Keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi Danu Suryanto dan Seril Nur Aini untuk meraih prestasi.

Dua siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 18 Blora itu berhasil menjadi finalis Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026 melalui penelitian bertema Omes Kayu Jati.

Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa latar belakang keluarga sederhana bukan penghalang untuk berprestasi di tingkat nasional.

Baca Juga: Sosok Pelajar Kudus Salsabila Agatha Berprestasi Bidang Riset Sulap Ampas Tebu Jadi Batu Bata 

Keduanya yang berasal dari keluarga petani mampu bersaing dengan ratusan peserta dari berbagai sekolah di Indonesia.

Di sela aktivitas belajar di SRMA 18 Blora, Danu dan Seril menghabiskan banyak waktu di laboratorium sekolah untuk mengembangkan penelitian yang mengangkat potensi lokal Kabupaten Blora, yakni kayu jati.

Setelah jam pelajaran berakhir, keduanya tidak langsung beristirahat seperti siswa lainnya.

Mereka memilih menuju laboratorium untuk melakukan berbagai tahapan praktikum dan penyempurnaan penelitian di bawah bimbingan guru kimia, Vinsensius Maunia Singgih Husada.

Danu dan Seril sama-sama meninggalkan kampung halaman sejak Juli 2025 untuk menempuh pendidikan di SRMA 18 Blora.

Meski berasal dari keluarga petani dengan keterbatasan ekonomi, keduanya memiliki cita-cita tinggi untuk menjadi dosen.

Seril mengaku masa kecilnya lebih banyak dihabiskan di pondok pesantren.

Kondisi ekonomi keluarga yang sulit membuat orang tuanya kerap membayar kebutuhan pondok menggunakan hasil panen berupa beras.

“Saya pernah diberi uang saku Rp50 ribu untuk dibagi berdua dengan adik selama satu minggu,” kenangnya.

Ia juga pernah merasa bersalah ketika meminta uang saku kepada orang tua, sementara kondisi ekonomi keluarga sedang sangat sulit.

Sementara itu, Danu tumbuh dengan membantu orang tuanya bekerja di sawah.

Meski memiliki prestasi akademik dan nonakademik yang cukup menonjol saat SMP, ia sempat khawatir tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA karena keterbatasan biaya.

Kesempatan itu akhirnya datang setelah keluarganya terdata sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan memperoleh akses pendidikan melalui SRMA 18 Blora.

Menurut Danu, fasilitas pendidikan yang lengkap serta dukungan guru di Sekolah Rakyat membuka peluang bagi dirinya dan teman-temannya untuk berkembang.

“Dulu saat SMP saya tidak pernah terpikir mengikuti penelitian. Sekarang saya bangga bisa mewakili Sekolah Rakyat hingga tingkat nasional,” ujarnya.

Penelitian yang mereka lakukan berfokus pada pemanfaatan omes kayu jati yang dikombinasikan dengan arang aktif untuk membantu proses penyaringan air yang tercemar bahan tambang.

Dalam proses penelitian, Seril bertugas menyiapkan berbagai alat laboratorium seperti gelas ukur, gelas kimia, timbangan, pipa tetes, dan kaca arloji.

Sedangkan Danu menyiapkan bahan penelitian berupa aquades, omes kayu, arang, serta sampel air.

Mereka mencampurkan omes kayu jati, arang aktif, dan aquades, kemudian mendiamkan campuran tersebut selama 24 jam sebelum dilakukan proses penyaringan.

Setelah dikeringkan, arang aktif hasil penelitian diuji pada sampel air yang berasal dari kawasan pertambangan di Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, serta Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro.

“Karena Blora identik dengan kayu jati, kami ingin mengangkat potensi daerah sendiri melalui penelitian ini,” kata Danu.

Kepala SRMA 18 Blora, Tri Yuli Setyoningrum, mengaku bangga atas pencapaian anak didiknya tersebut.

Menurutnya, keberhasilan Danu dan Seril menjadi finalis OPSI merupakan bukti bahwa siswa dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi apabila mendapat pendampingan yang tepat.

“Melaju ke tingkat nasional merupakan pencapaian luar biasa dan bisa meningkatkan kepercayaan diri mereka,” ujarnya.

Tri Yuli menyebut hingga kini siswa SRMA 18 Blora telah meraih sedikitnya 14 prestasi akademik dan nonakademik di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional.

Selain menekankan prestasi akademik, sekolah juga membangun karakter siswa melalui pembiasaan olahraga, ibadah berjamaah, kegiatan sosial, serta pengembangan bakat dan minat.

“Semua anak memiliki potensi masing-masing. Tugas kami adalah mendampingi mereka dengan empati, kesabaran, dan memberikan ruang untuk berkembang,” pungkasnya. (ari)

 
 
Editor : Abdul Rochim
#SRMA 18 Blora #OPSI 2026 #Danu Suryanto #Seril Nur Aini #Omes Kayu Jati