Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Sosok Pelajar Kudus Salsabila Agatha Berprestasi Bidang Riset Sulap Ampas Tebu Jadi Batu Bata 

Abdul Rochim • Jumat, 19 Juni 2026 | 19:01 WIB
Salsabila Agatha. (DOK PRIBADI UNTUK RADAR PATI)
Salsabila Agatha. (DOK PRIBADI UNTUK RADAR PATI)

Siswa dari Kudus Salsabila Naswa Agatha membawa nama harum daerah pada ajang riset nasional. Ia berhasil menyulap limbah pabrik gula berupa ampas tebu menjadi batu bata ramah lingkungan.

ANDIKA TRISNA SAPUTRA, Kudus

USIA muda tak menghalangi Salsabila Naswa Agatha (17) untuk menorehkan prestasi di dunia penelitian.

Siswi kelas XI F4 SMA Negeri 1 Bae Kudus ini sukses membawa nama harum daerah melalui sederet medali dari kompetisi riset tingkat nasional hingga Asia Tenggara sepanjang 2026.

Prestasi terbarunya datang dari ajang Nalatico. Ia meraih medali emas penelitian tingkat nasional.

Baca Juga: WARUNG SEDEKAH DI KUDUS : Konsisten Berbagi Nasi Bungkus selama 11 Tahun

Kompetisi tersebut digelar oleh Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah belerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Malang dan Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Selain itu, Agatha juga menyabet medali perak di ajang Isyouth for ASEAN Countries dan Niseef.

Di balik raihan itu, Agatha membawa inovasi yang berangkat dari persoalan di sekitar tempat tinggalnya.

Ia meneliti limbah ampas tebu dari pabrik gula di Kabupaten Kudus untuk diolah menjadi batu bata alternatif pengganti tanah liat.

Menurutnya, ide itu muncul dari keprihatinan terhadap banyaknya limbah industri yang belum dimanfaatkan secara optimal.

"Awalnya saya observasi dulu kandungan dalam limbah ampas tebu itu. Setelah itu saya izin ke pihak pabrik untuk mengambil sampelnya. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak dijadikan produk yang punya nilai guna,” ujarnya.

Dalam proses pembuatan, ampas tebu yang sudah halus dikeringkan di rumah, kemudian dicampur dengan abu sekam padi untuk membentuk bata berukuran 25x10x4 sentimeter.

Satu bata memiliki berat sekitar 500 gram dengan warna oranye gelap seperti bata pada umumnya.

Pembuatan satu batch membutuhkan waktu sekitar dua pekan, bergantung kondisi cuaca.

Tak hanya berhenti pada eksperimen, Agatha juga mengandeng Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk melakukan uji kuat tekan.

Hasilnya, bata inovasinya mencatat angka 6 hingga 7 MPa, melampaui Standar Nasional Indonesia yang berada di angka 5 MPa.

Pengujian lain di Politeknik Pekerjaan Umum Semarang menunjukkan bata tersebut memiliki kemampuan isolasi termal yang baik, mampu menyerap panas sekaligus meredam suara.

”Alhamdulillah hasilnya di atas standar. Jadi ini bukan hanya memanfaatkan limbah, tapi juga punya kualitas yang layak untuk konstruksi,” katanya.

Ketertarikan Agatha pada dunia riset ternyata sudah tumbuh sejak SMP. Saat itu ia lebih banyak meneliti bidang kesehatan.

Memasuki bangku SMA, ia mencoba menjelajahi bidang teknik siipil dan menemukan tantangan baru yang justru membawanya pada pencapaian lebih besar.

Dukungan sekolah, menurutnya, menjadi salah satu faktor penting yang membuatnya terus berkembang.

Kini, hasil penelitiannya tak hanya sebatas laboratorium. Agatha sudah mencoba membangun rumah kecil menggunakan bata inovasinya dan mengujinya di luar ruangan, hingga saat ini pun masih berbentuk.

Meski belum dipasarkan karena masih membutuhkan perizinan, produknya mulai dilirik sebagai inovasi potensial di bidang konstruksi ramah limgkungan.

Dalam waktu dekat, Agatha dijadwalkan menjadi perwakilan pameran produk kreatif unggulan Kabupaten Kudus di ajang Jateng Fair 2026 yang berlangsung pada 26 Juni hingga 5 Juli 2026, setelah lolos seleksi Krenova Kudus.

Langkah itu menjadi bukti bahwa inovasi dari pelajar daerah mampu berbicara di panggung yang lebih luas. (*/him)

Editor : Abdul Rochim
#ampas tebu #batu bata #pelajar SMA 1 Bae #riset nasional #kudus