GROBOGAN- Senyumnya tak lepas saat menceritakan pengalaman selama mengikuti ajang Duta Bahasa Jawa Tengah 2026.
Sesekali Ima Nur Diana tertawa ketika mengenang kebiasaannya yang kini sering tanpa sadar mengoreksi istilah asing ke dalam padanan bahasa Indonesia.
Di balik cerita ringan itu, finalis asal Grobogan tersebut menyimpan semangat besar untuk menumbuhkan budaya literasi dan kecintaan terhadap bahasa Indonesia di tengah masyarakat.
Bagi perempuan asal Desa Simo Kecamatan Kradenan Kabupaten Grobogan, bahasa bukan sekadar kumpulan kata yang digunakan untuk berkomunikasi.
Bahasa adalah cara berpikir, identitas, sekaligus jembatan untuk membangun kesadaran literasi di tengah masyarakat.
Kesadaran itulah yang membawanya melangkah hingga menjadi finalis Duta Bahasa Jawa Tengah 2026.
Membawa misi sederhana namun bermakna: menyalakan pelita literasi dari desa.
Di tengah kesibukan mengikuti rangkaian seleksi yang panjang dan ketat, perempuan kelahiran Grobogan 14 Januari 2002 itu justru menemukan pengalaman kecil yang mengubah cara pandangnya terhadap bahasa Indonesia.
Mulai dari bertemu santri di pondok pesantren hingga tanpa sadar mengoreksi dirinya sendiri saat menggunakan istilah yang dianggap kurang baku.
Menulis telah menjadi bagian dari kehidupan Ima sejak lama. Selama ini ia aktif menerbitkan buku antologi, mengelola karya tulis kolektif sebagai pimpinan redaksi, hingga terlibat dalam buletin kampus saat menempuh pendidikan.
Dari kebiasaan membaca dan menulis itu tumbuh sebuah kegelisahan yang terus ia bawa hingga kini, yakni rendahnya tingkat literasi masyarakat.
Baginya, literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis.
Literasi adalah kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, serta membangun budaya ilmu di lingkungan sekitar.
Keresahan tersebut kemudian ia tuangkan dalam krida berjudul Pelita Bahasa: Model Edukasi Kebahasaan Partisipatif Berbasis Komunitas untuk Penguatan Literasi dan Identitas Bahasa di Wilayah Pedesaan.
Melalui gagasan itu, Ima ingin menghadirkan ruang belajar yang tumbuh bersama masyarakat, terutama di wilayah pedesaan.
Perjalanan menuju panggung final Duta Bahasa Jawa Tengah bukanlah proses singkat. Seleksi dimulai sejak Maret melalui tahap administrasi, kemudian berlanjut ke wawancara semifinal yang diikuti 75 peserta dari berbagai daerah.
Dari puluhan peserta tersebut, Ima berhasil menembus jajaran 20 besar finalis yang terdiri atas 10 putra dan 10 putri.
Namun, pengalaman paling membekas justru datang saat ia mengimplementasikan krida Pelita Bahasa di sebuah pondok pesantren.
Di sana, ia menyaksikan bagaimana bahasa berkembang secara dinamis di kalangan santri.
Berbagai singkatan dan istilah yang lahir dari media sosial digunakan dalam percakapan sehari-hari, terkadang dengan makna yang mulai bergeser dari bentuk aslinya.
Pengalaman itu membuatnya semakin memahami pentingnya literasi digital dan etika berbahasa di tengah arus informasi yang bergerak cepat.
Tak hanya mendapatkan pelajaran dari masyarakat, Ima juga mengaku menemukan banyak istilah bahasa Indonesia yang sebelumnya jarang ia gunakan.
Ia baru mengetahui bahwa powerpoint memiliki padanan kata salindia, microphone disebut pelantang, email adalah surat elektronik, sementara CV dapat ditulis sebagai daftar riwayat hidup atau DRH.
Pengetahuan baru itu ternyata membawa cerita lucu dalam kesehariannya.
Ia mengaku sering kali refleks menggunakan istilah-istilah baku tersebut hingga tanpa sadar mengoreksi dirinya sendiri maupun percakapan di sekitarnya.
Ketika mendengar teman menyebut CV, misalnya, ia spontan menyebut DRH.
Reaksi kebingungan dari teman-temannya kerap berujung pada gelak tawa dan candaan ringan.
Di balik cerita sederhana itu, tersimpan pemahaman yang lebih dalam. Ima menyadari bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan cermin identitas sekaligus sarana membentuk cara berpikir masyarakat.
Melalui pengalaman sebagai finalis Duta Bahasa Jawa Tengah 2026, ia berharap semangat literasi dapat terus tumbuh di Kabupaten Grobogan.
Sebab bagi Ima, perubahan besar selalu berawal dari hal-hal kecil, termasuk keberanian untuk memilih kata, menjaga bahasa, dan menyalakan pelita pengetahuan dari lingkungan terdekat. (int)
Editor : Admin