SOSOK Keisya Widia Karera dikenal piawai dalam menari.
Gerakannya terlihat selaras dengan irama musik dan penuh penghayatan dalam setiap penampilan.
Remaja berusia 17 tahun itu mulai mengenal dunia tari sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Awalnya, Keisya hanya mengikuti ajakan guru untuk bergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler tari di sekolah.
Namun dari sekadar ikut-ikutan, ketertarikannya terhadap seni tari tumbuh semakin besar. Ia kemudian mulai serius mendalami berbagai teknik dasar tarian.
Keisya mengaku proses belajar menari tidak mudah.
Menurutnya, penari harus menguasai teknik dasar terlebih dahulu agar gerakan terlihat luwes dan selaras dengan musik.
Setelah memahami dasar-dasar tari, ia mulai belajar penghayatan dalam setiap gerakan.
Baginya, menari bukan hanya soal teknik, tetapi juga bagaimana memahami makna tarian dan menyesuaikannya dengan irama musik.
“Menari itu harus diawali dengan rasa suka dan fokus,” ujarnya.
Keisya menjelaskan, tarian pertama yang dipelajarinya adalah tari tradisional.
Setelah itu, kemampuan menarinya berkembang hingga mempelajari tari kreasi dan kontemporer.
Hobi menari membawa Keisya tampil di berbagai acara, mulai tingkat desa hingga kabupaten.
Puncaknya, ia mendapat kesempatan tampil di ajang nasional di Taman Mini Indonesia Indah atau TMII.
Penampilan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Kampung Budaya Piji Wetan, Disbudpar Kudus, dan pihak penyelenggara acara.
Keisya mengaku bangga bisa tampil di panggung nasional dan berharap seni tari Indonesia semakin dikenal hingga ke mancanegara.
Saat ini, Keisya merupakan lulusan SMA 1 Bae, Kudus.