Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

SUBHANALLAH! Sosok Buruh Pasar Kliwon Kudus Ini Menabung selama 13 Tahun untuk Beribadah Haji

Abdul Rochim • Jumat, 24 April 2026 | 19:57 WIB
Suherman bersama sang istri Emy Setyowati mempersiapkan berangkat haji, Rabu (22/4). (DOK PRIBADI)
Suherman bersama sang istri Emy Setyowati mempersiapkan berangkat haji, Rabu (22/4). (DOK PRIBADI)

Di balik kerasnya hidup sebagai buruh angkut, Suherman menyimpan mimpi besar yang ia rajut pelan-pelan hingga akhirnya mengantarkannya ke panggilan haji.

RIUH aktivitas di Pasar Kliwon Kudus menjadi saksi perjalanan panjang Suherman (51), buruh angkut asal Desa Bacin, Kecamatan Bae.

Di antara deru troli dan tumpukan barang dagangan, ia memelihara satu mimpi yang tak pernah padam, yaitu berangkat haji.

Bersama sang istri, Emy Setyowati (46), Suherman akhirnya menuai hasil dari kesabaran yang ia rajut selama lebih dari satu dekade. Tanpa latar belakang ekonomi mapan, ia membuktikan bahwa keteguhan hati mampu menembus keterbatasan.

Baca Juga: LANJUTKAN Niat Sang Ayah, Sosok Athaya Putra Calon Jamaah Haji Termuda Grobogan

Sehari-hari, Suherman bekerja sebagai porter dengan penghasilan sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 120 ribu per hari. Nominal itu tak selalu pasti, bergantung pada ramainya aktivitas pasar. Namun dari jumlah yang kerap pas-pasan tersebut, ia tetap menyisihkan sebagian untuk tabungan haji.

Saya tidak punya cara khusus, yang penting setiap ada rezeki pasti saya sisihkan. Niatnya sudah dari lama,tuturnya sederhana.

Rutinitasnya dimulai sejak pagi buta. Saat sebagian orang masih terlelap, Suherman sudah bersiap menyambut aktivitas pasar. Tak jarang, selepas pekerjaan utama, ia mencari tambahan penghasilan demi memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menjaga konsistensi menabung.

Baca Juga: FADAL ALLAH! Pemuda Kudus Muhammad Aniq Harusnya Nunggu hingga 2049 Kini Berangkat Haji 2026

Kalau lagi ramai ya bisa lebih, tapi kalau sepi ya cukup untuk makan. Yang penting tetap ada yang ditabung, walaupun sedikit,ujarnya.

Langkah kecil itu mulai terarah saat ia resmi mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji pada 2013. Sejak saat itu, ia hanya bisa menunggu dengan penuh harap, sembari terus bekerja dan berdoa.

Penantian panjang selama 13 tahun akhirnya terbayar. Tahun ini, Suherman dan istrinya mendapat kesempatan berangkat melalui kuota haji tambahan. Namun kabar itu datang tanpa banyak waktu persiapan.

Ia harus segera melunasi biaya sekitar Rp 50 juta dalam waktu singkat. Situasi tersebut sempat membuatnya terkejut, namun keyakinannya tidak goyah.

Sempat kaget juga karena waktunya mepet. Tapi saya yakin pasti ada jalan, jadi tetap saya usahakan,katanya.

Kisah Suherman perlahan menyebar di antara para buruh angkut lainnya. Bagi mereka, cerita ini bukan sekadar tentang keberangkatan haji, melainkan bukti nyata bahwa harapan tidak mengenal batas ekonomi.

Di tengah kerasnya kehidupan pasar, Suherman enghadirkan pelajaran sederhana, yaitu konsistensi, kesabaran, dan keyakinan mampu membuka jalan yang tak terduga.

Kini, menjelang keberangkatan, ia dan sang istri hanya bisa bersyukur. Impian yang dulu terasa jauh, kini tinggal selangkah lagi menjadi kenyataan.

Alhamdulillah, ini rezeki yang tidak saya sangka. Semoga bisa berangkat dengan lancar,ucapnya penuh harap.

Di mata rekan-rekannya, Suherman bukan sekadar pekerja keras. Ia dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan ringan tangan.  Rekannya di pasar, menyebut Suherman sebagai pribadi yang jarang mengeluh meski pekerjaan yang dijalani tergolong berat.

Bahkan dalam situasi sulit, Suherman tetap menunjukkan ketenangan. Sikap sabarnya membuatnya disukai banyak orang di lingkungan pasar. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA, Kudus)

Editor : Abdul Rochim
#buruh pasar kliwon #ibadah haji #menabung 13 tahun #kudus