Merantau, Sosok Gadis asal Palembang Jalani Kuliah dan Mondok Sekaligus Berprestasi

Abdul Rochim • Dipublikasikan Kamis, 16 April 2026 | 19:31 WIB
Ma’rifatul Munawaroh. (DOK PRIBADI)
Ma’rifatul Munawaroh. (DOK PRIBADI)

SEMARANG – Semangat merantau dan menuntut ilmu menjadi bagian penting dalam perjalanan Ma’rifatul Munawaroh (21).

Mahasiswi semester IV jurusan Psikologi di Universitas Muria Kudus ini menjalani dua peran sekaligus, yakni sebagai mahasiswa dan santri selama kurang lebih 10 tahun terakhir.

Perempuan asal Palembang, Sumatera Selatan, yang datang ke Kudus sejak 2022 tersebut memilih tetap mondok di tengah kesibukan kuliah.

Baca Juga: Sosok Perempuan asal Rembang Ini Dikenal Multitalenta, Kuasai Panggung Budaya hingga Catwalk Modern

Baginya, kuliah dan kehidupan pesantren bukan hal yang harus dipilih salah satu, melainkan dijalani secara seimbang.

Namun, ia mengakui tantangan terbesarnya adalah mengatur waktu.

Sehari-hari, aktivitasnya terbilang padat. Sejak pagi hingga siang, ia mengikuti perkuliahan di kampus.

Setelah itu, ia melanjutkan kegiatan di pesantren hingga malam hari. Waktu untuk mengerjakan tugas kuliah pun kerap dilakukan larut malam.

“Kalau ada tugas kuliah, biasanya saya kerjakan malam hari. Siang sudah penuh di kampus, malam setelah ngaji baru bisa fokus,” ujar mahasiswi yang akrab disapa Rifa.

Tak hanya fokus pada akademik dan kegiatan pesantren, Rifa juga aktif di organisasi, khususnya di bidang literasi dan relawan sosial.

Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi dirinya untuk berkembang sekaligus berkontribusi di masyarakat.

Pengalaman berharga juga ia dapatkan saat mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Filipina pada 2025 selama satu bulan.

Selain belajar budaya dan akademik, ia juga menghadapi tantangan, terutama dalam mencari makanan halal.

“Di sana cukup sulit mencari makanan halal. Bahkan street food banyak yang berbahan babi,” ungkapnya.

Meski demikian, pengalaman tersebut memperluas wawasan dan cara pandangnya terhadap keberagaman budaya.

Saat ini, Rifa tengah mengikuti kompetisi tingkat nasional yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Bersama tim beranggotakan lima orang, ia berhasil lolos di tingkat universitas dan masuk 18 besar dari ratusan peserta.

Ia juga terlibat dalam ajang Sustainable Innovation National Essay Competition (SINEC) 2026 dengan mengangkat isu kawasan Muria Raya.

Dalam kompetisi ini, ia tergabung dalam tim tiga orang yang menawarkan gagasan inovatif untuk menjawab berbagai persoalan di wilayah tersebut.

Di tengah kesibukannya, Rifa tetap menyempatkan diri menekuni hobi membaca sebagai cara memperluas pengetahuan dan menjaga semangat belajar.

Sebagai anak keempat dari empat bersaudara, ia tumbuh dalam keluarga yang mendorong kemandirian melalui pengalaman merantau.

Orang tuanya menanamkan bahwa kesuksesan akan lebih bermakna jika diraih di luar zona nyaman.

“Orang tua saya selalu bilang, kalau kita tetap di tempat asal, sehebat apa pun rasanya kurang berarti. Makanya saya diminta merantau,” tuturnya. (dik/lin)



Editor : Abdul Rochim
mahasiswa UMK kisah inspiratif mahasiswa kuliah sambil mondok pertukaran pelajar Filipina kompetisi nasional