Melihat Kesenian Mandailing di Pati yang Nyaris Punah, Bertahan dengan Mengandalkan Aksi Penari Tua

Abdul Rochim • Dipublikasikan Rabu, 8 April 2026 | 11:04 WIB

PENTAS: Pemain seni Mandailing menari di atas panggung Alun-alun Pati beberapa waktu lalu. (DISDIKBUD PATI UNTUK RADAR PATI)
PENTAS: Pemain seni Mandailing menari di atas panggung Alun-alun Pati beberapa waktu lalu. (DISDIKBUD PATI UNTUK RADAR PATI)

PATI - Kesenian Mandailing di Kabupaten Pati yang kini nyaris punah masih bertahan berkat peran para penari senior.

Di tengah keterbatasan usia dan minimnya regenerasi, mereka tetap tampil membawakan tarian dan musik khas pesisir tersebut sebagai upaya melestarikan warisan budaya daerah.

Andre Faidhil Falah, Radar Kudus, Pati

Baca Juga: Warga di Pati Keluhkan Kendaraan Bermotor Tetap Melintas Meski Momen Car Free Day

Lampu panggung menyinari derap langkah para penari yang tak lagi muda. Dengan balutan kemeja putih, rompi hitam, dan celana gelap, sejumlah pria paruh baya hingga lansia itu menari-nari di atas panggung.

Wajah mereka tampak serius. Mungkin mereka sedang memikirkan langkah gerakan selanjutnya.

Mereka sedang menampilkan satu bagian dari kesenian Mandailing Pati. Itu tradisi lama yang kini kembali dihidupkan oleh penari-penari senior.

Mandailing atau dikenal juga sebagai Mandeling ceritanya pernah menjadi kesenian populer di pesisir Kabupaten Pati.

Kesenian ini lahir dari pertemuan berbagai unsur seni, mulai dari tari, musik, suara, hingga drama.

Dalam setiap pementasan, lagu-lagu bernuansa Melayu mengalun, kadang diselingi pantun.

Di balik pertunjukan itu, tersimpan nilai sejarah yang kuat. Mandailing menjadi jejak akulturasi budaya pada masa perdagangan Nusantara, ketika berbagai bangsa bertemu dan berinteraksi.

Tokoh-tokoh seperti Ibrahim, Adam, Sinyo, dan Nonik hadir sebagai simbol perwakilan bangsa Arab, Belanda, China, dan Indonesia.

Mereka digambarkan bertemu dalam perjalanan menuju Pulau Jawa untuk berdagang, lalu terlibat dalam interaksi yang dibalut nyanyian dan sentuhan komedi.

Salah satu kelompok yang masih setia menjaga tradisi ini adalah Sinar Buana dari Desa Alasdowo, Kecamatan Dukuhseti.

Meski para pemainnya kini didominasi usia lanjut, semangat mereka tak surut.

Salah satu penari Sugiyanto telah mengenal kesenian ini sejak remaja. Ia mulai bergabung sejak usia 18 tahun setelah sering menyaksikan pertunjukannya.

Kesenian ini, bagi laki-laki berusia 76 tahunan itu memang berarti.  Selain nguri-nguri budaya, kesenian itu sudah diwariskan secara turun-temurun kepadanya.

Baca Juga: Mobil Dinas DPRD Pati Viral, Ketua Komisi C Pastikan Bukan Dipakai Anggota

Lagu-lagu yang dibawakan tetap mengikuti ajaran lama, meski maknanya tak selalu dipahami secara utuh oleh para pemain sekarang.

Beberapa lagu seperti Layang Tabik, Gembala Sapi, Turijal, Fatimah, hingga Adik Suntaria kini mulai jarang terdengar, bahkan sulit menemukan pengiringnya.

Perubahan zaman juga memengaruhi iringan musiknya. Jika dahulu Mandailing diiringi akordeon, kini perlahan digantikan organ.

Namun esensi ceritanya tetap dipertahankan. Dalam pementasan, kisah perjalanan para tokoh lintas bangsa itu kerap mengambil latar di atas kapal, tempat mereka bertemu sebelum berlabuh di Pulau Jawa.

Meski usia para pemain rata-rata telah menginjak 70 tahun, mereka tetap bertahan.

Bukan sekadar tampil, tetapi juga menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman.

Biasanya, mereka pentas saat sedekah bumi atau diundang dalam hajatan warga.

“Sekarang sudah jarang. Paling di acara tertentu seperti hajatan,” ucapnya.

Hal senada juga disampaikan Plt Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati, Paryanto.

Ia menilai Mandailing sebagai bukti kuat akulturasi budaya di masa jalur rempah.

“Mandailing menunjukkan pertemuan berbagai budaya akibat perdagangan masa lalu.

Ini menandakan bahwa Pati memiliki peradaban yang besar,” ujarnya.

Di atas panggung baginya, Mandailing bukan sekadar pertunjukan.

Melainkan cerita, sejarah, sekaligus napas panjang sebuah tradisi yang terus berusaha bertahan. (*/him)

Editor : Abdul Rochim
kesenian mandailing regenerasi kesenian pati