Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Sosok Norhadi Perajin Ukiran Kaligrafi asal Jepara  Tekuni Usaha Kaligrafi, Orderan dari Luar Pulau dan Mancanegara

Abdul Rochim • Rabu, 1 April 2026 | 11:45 WIB
MENAWAN: Norhadi menunjukkan karya kaligrafi di gerai rumah usahanya. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR PATI)
MENAWAN: Norhadi menunjukkan karya kaligrafi di gerai rumah usahanya. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR PATI)

Konsistensi adalah kunci. Istiqamah adalah jalan menuju berkah. Hal itu yang dipegang oleh perajin ukir kaligrafi asal Desa Pendosawalan, Pecangaan, Jepara, Norhadi.

Setidaknya lebih dari 20 tahun menekuni usaha ini, hingga mendapatkan buyer dari luar pulau dan mancanegara.

Oleh: FIKRI THOHARUDIN, Jepara

Baca Juga: Pemkab Jepara Kaji WFH, Naik Sepeda ke Tempat Kerja Ikut Masuk Pembahasan

BUNYI gesekan alat ukir terdengar ritmis dari sebuah rumah produksi di Desa Pendosawalan, Pecangaan, Jepara.
 
Di dalamnya, dinding-dinding galeri dipenuhi ukiran kaligrafi. Ayat-ayat Alquran yang ditatah rapi, berpadu dengan motif khas Jepara. 

Setiap lekuknya menyimpan ketelatenan, setiap hurufnya dijaga ketepatan maknanya.

Di tempat itulah Norhadi, pemilik usaha Nur Art Kaligrafi Jepara, menekuni jalan hidupnya. 

Lebih dari dua dekade ia bertahan di dunia ukir kaligrafi. 

Baginya, konsistensi bukan sekadar pilihan, melainkan prinsip. “Istiqamah itu kunci,” menjadi pegangan yang ia jalani sejak awal merintis usaha.

Perjalanan Norhadi dimulai sejak akhir 1990-an.

Ia sempat belajar dan bekerja mengikuti perajin lain, sebelum akhirnya memberanikan diri berdiri sendiri pada tahun 2000, bertepatan dengan momen ia membangun keluarga. 

Awalnya, ia menekuni kaligrafi berbahan kuningan.

Namun, harga bahan yang mahal dan maraknya produk tiruan berbahan aluminium membuat pasar menjadi tidak sehat.

Dari situ, ia melihat celah. Jepara dikenal sebagai kota ukir, dan Norhadi memanfaatkan identitas itu. 

Ia mulai mengembangkan kaligrafi berbasis ukiran kayu. Memadukan nilai seni dan religi dengan kekuatan tradisi lokal. 

Langkah tersebut menjadi titik balik yang mengubah arah usahanya.

Kemampuan kaligrafinya tidak datang begitu saja. Ia pernah belajar di lingkungan pesantren, termasuk di MTs Al Falah Margoyoso dan Ponpes Al Islah.

Serta Ponpes Darunnajah, Kedungsari, Kudus.

Di sana, ia berguru pada para kiai dan memperdalam pemahaman tentang penulisan ayat-ayat Alquran.

Ketelitian dalam menulis huruf Arab, termasuk harakatnya, menjadi hal yang sangat ia jaga hingga sekarang.

Inspirasi penting datang dari seorang tokoh bernama Wahyudi, yang pernah mengajaknya bekerja sama. 

Dari situ, Norhadi semakin mantap menekuni bidang ini. Ia tidak hanya memproduksi, tetapi juga terus belajar menyempurnakan teknik dan kualitas karyanya.

“Iya waktu itu beliau main ke rumah saya. Kemudian mengajak bekerja, saya pun diajari. Sampai bisa dan hingga sekarang ini,” ucapnya.

Kini, pasar Norhadi tidak lagi terbatas pada Jepara atau Pulau Jawa. Pesanan datang dari berbagai daerah seperti Sulawesi, Riau, hingga Kalimantan. 

Bahkan, dalam satu setengah tahun terakhir, ia mulai merambah pasar digital melalui TikTok. Hasilnya cukup memuaskan, pembeli datang dari Malaysia hingga Turki.

Produk yang ditawarkan pun beragam.

Ukiran kaligrafi dengan ukuran 1x2 meter bisa mencapai harga Rp 7,5 juta, sementara produk lain dibanderol mulai Rp 500 ribu hingga Rp 9 juta, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. 

Ayat Kursi dan Ayat Seribu Dinar menjadi yang paling banyak diminati. Ia juga melayani pesanan khusus sesuai permintaan pelanggan.

Di tengah meningkatnya permintaan, ritme kerja di bengkelnya pun ikut menyesuaikan. 

Norhadi membagi proses produksi secara bertahap. Mulai dari penulisan kaligrafi, pemahatan, hingga finishing—agar setiap bagian tetap terjaga kualitasnya. 

Dalam sehari, suara pahat dan percakapan para pekerja menjadi harmoni tersendiri yang menandai produktivitas ruang kerja tersebut.

Dalam proses produksinya, Norhadi sangat menjaga kualitas. Tahap finishing dilakukan dengan teknik tertentu, termasuk pemanasan, agar hasil akhir kuat dan tahan lama. 

Ia juga memastikan setiap ayat yang diukir telah diperiksa ulang, baik dari segi tulisan maupun harakat, untuk menghindari kesalahan.

Usahanya kini didukung sekitar 10 karyawan, sebagian berasal dari luar Desa Pendosawalan.

Kehadiran mereka tidak hanya membantu produksi, tetapi juga menjadi bagian dari transfer keterampilan, di mana Norhadi turut membagikan ilmu yang ia dapatkan selama bertahun-tahun.

Meski pasar yang disasar berada di segmen menengah ke bawah, ia tidak menurunkan standar kualitas. 

Baginya, kepercayaan pembeli adalah modal utama. Sekali karya dinilai baik, pelanggan akan datang kembali, bahkan membawa pesanan baru dari relasi mereka.

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga ia respons secara adaptif.

TikTok menjadi salah satu etalase baru yang mempertemukan karyanya dengan pasar yang lebih luas. 

Melalui video singkat, proses pembuatan hingga hasil akhir kaligrafi dapat dilihat langsung oleh calon pembeli, membuka peluang tanpa batas geografis.

Bagi Norhadi, usaha ini bukan sekadar mencari penghasilan. Ada nilai yang ia jaga, tentang kesabaran, ketekunan, dan tanggung jawab terhadap karya yang memuat ayat suci. 

Di tengah perubahan zaman dan persaingan pasar, ia memilih tetap berjalan di jalur yang diyakini, perlahan namun pasti.

“Di sini terjangkau, dengan uang Rp 1,2 juta pun sudah bisa membawa pulang karya seni ukir kaligrafi. Rata-rata seharga itu,” pungkasnya. (*)

 

Editor : Abdul Rochim
#kaligrafi Jepara #produk ukiran Jepara #ayat Alquran #kaligrafi kayu #kerajinan